JUDUL di atas menarik, sering disebut-sebut, apa lagi oleh pendakwah. Pertanyaannya, sudahkan diamalkan?

Dalam Alquran banyak ayat menegaskan bahwa ajaran Islam itu merupakan rahmat bagi alam semesta (Al-Anbiya: 107). Kita sebut beberapa ayat yang menegaskan dan bermuara kepada kedamaian, kasih sayang dan tidak merusak sekaligus tidak mengganggu:

1. Albaqarah 60: Janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

2. Alhujurat 10: Sesungghnya orang mukmin itu bersaudara.

3. Alhujurat 11: Jangan merendahkan atau mengejek orang lain, boleh jadi yang diejek itu lebih baik dari yang mengejek .

4. Alhujurat 13: Dijadikan berbangsa- bangsa, bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal serta hidup rukun dan damai.

5. Ali Imran 103: Jangan bercerai-berai, jangan tuduh-menuduh.

6. Almumtahanah: Bahwa amanah dan keadilan harus disampaikan kepada umat manusia tanpa memandang suku, agama dan bangsa.

7. Almaidah: Bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna (tidak ada yang luput)

8. Hadis: Tebarkanlah salam di antara kalian.

Demikian di antara ayat yang menegaskan bahwa Islam adalah ajaran rahmatan lil alamin. Sekarang pertanyaan muncul:

1. Sudahkah sesama mukmin bersaudara (bertegur sapa, tidak mengelompok, tolong-menolong , saling menghargai, dan tidak sombong)?

2 . Apa kita telah bersahabat dengan alam?

3. Apa kita termasuk orang yang membenci karena tidak seagama, sebangsa dan sealiran?

4. Pernahkah kita memberi bantuan atau sumbangan kepada orang lain yang tidak seagama, tidak sebangsa maupun sealiran (materi dan non materi)?

5. Sudahkah kita menghormati orang lain atau kelompok lain yang tidak seagama dan tidak sebangsa?

6. Apakah kita termasuk orang yang menganiaya binatang?

7. Adakah kita punya rasa malu berbuat menyimpang dari ajaran Islam?

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa terhadap hubungan sosial kemasyarakatan (hablum minannas) Islam tidak membeda-bedakan suku, agama, budaya, aliran dan seterusnya. Justeru Islam mengajak; hidup rukun damai, saling memberi, saling menghargai. Bukan saling membenci, saling fitnah, yang benar kita, yang lain salah.

Para mufassir kontemporer mengatakan, untuk berbuat baik, berlaku adil dan saling menyenangkan (memberi rahmat) bisa terwujud apabila pemahaman dan keyakinan kita terhdap ajaran Islam sudah kuat dan berkualitas. Jika belum, ber-Islam masih sebatas formalitas dan rutinitas, diyakini rahmatan lil alamin itu sulit terwujud, hanya sekedar slogan saja.

Penulis tidak menyimpulkan tulisan ini. Penulis ingin mengajak kita semua menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan jujur dengan hati nurani, sekaligus introspeksi bagaimana kualitas pemahaman kita terhadap ajaran Islam.

Kalau masih lemah, mari kita berusaha terus memperkuat dengan banyak lagi belajar, terutama membaca. Insya-Allah ajaran Islam rahmatan lil alamin menjadi kenyataan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahu a'lam.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua Muhammdiyah Kota Pekanbaru 1985-1995 dan Ketua Dewan Pembina IKMR Provinsi Riau.