PEKANBARU - Tiga nama kandidat Rektor Universitas Riau (Unri) periode 2026-2030 telah dikantongi Senat. Menyikapi tahapan ini, Mantan Presiden Mahasiswa Unri 2025, Egoprayogo, menitipkan pesan agar pemimpin baru kampus tersebut tetap menempatkan kepentingan mahasiswa sebagai denyut nadi utama dalam merumuskan setiap kebijakan.
Ketiga calon yang lolos penyaringan dari delapan pendaftar pada 8 Juli 2026 lalu adalah Dr Mexsasai Indra, SH, MH, Prof Ahmad Fadli, ST, MT, PhD, dan Prof Dr Jimmi Copriady, MSi. Ego berharap ketiganya tidak hanya sibuk menawarkan gagasan tentang relasi institusi dengan pemerintah atau pihak luar, melainkan juga proaktif membedah dan menyelesaikan persoalan internal di dalam kampus.
"Siapapun yang nantinya terpilih, saya berharap ketiganya membawa semangat persatuan. Jangan sampai orientasi kepemimpinan hanya pro terhadap kebijakan pemerintah, sementara kebutuhan mahasiswa justru terabaikan. Mahasiswa harus tetap menjadi prioritas utama," tegas Ego pada Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, visi serta program internasionalisasi maupun peningkatan reputasi kampus tidak boleh mengubur ruang komunikasi antara pimpinan dan mahasiswa. Pemimpin yang baru dinilai harus mampu mendengarkan keluh kesah sivitas akademika dan menjadikan aspirasi tersebut sebagai indikator keberhasilan kepemimpinan.
Lebih jauh, Ego menilai sikap kritis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah adalah hal wajar yang perlu dipertahankan. Namun, sikap kritis tersebut tidak selalu berarti mahasiswa harus terus berhadapan dengan pemerintah tanpa alasan yang jelas.
"Ketika ada kebijakan yang baik, tentu harus didukung. Tetapi saat kebijakan itu tidak berpihak atau tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, harus ada keberanian untuk menyampaikan kritik," paparnya.
Jaga Persatuan Usai Pemilihan
Berdasarkan hasil penyaringan Senat Unri, Mexsasai Indra berhasil meraup 29 suara, disusul Ahmad Fadli dengan 13 suara, dan Jimmi Copriady mendapat 11 suara. Ego berharap dinamika perolehan suara serta perbedaan pilihan ini tidak memantik polarisasi maupun sekat di kalangan mahasiswa.
"Perbedaan pilihan jangan menjadi alasan untuk terpecah. Setelah pemilihan selesai, kita semua tetap mahasiswa yang memiliki tujuan sama. Siapa pun rektor yang terpilih kelak, harus mampu merangkul semua kelompok dan memperjuangkan kebutuhan kita bersama-sama," urainya.
Proses kontestasi kepemimpinan Unri ini akan segera memasuki tahapan penentuan akhir. Pemilihan Rektor nantinya akan melibatkan hak suara Senat Unri dengan porsi 65 persen, serta 35 persen hak suara dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Sebagai penutup, Ego kembali mengingatkan bahwa mandat terbesar seorang pemimpin universitas sejatinya lahir dari keberadaaan mahasiswa. Ia meminta calon rektor untuk selalu melibatkan organisasi mahasiswa dalam tata kelola institusi ke depan.
"Jadikan kebutuhan mahasiswa sebagai prioritas, tetap kritis, tetap terbuka terhadap pemerintah, tetapi jangan kehilangan keberanian untuk menyuarakan apa yang memang menjadi kepentingan mahasiswa," pungkasnya. ***


