PEKANBARU – Sejak pengelolaan ladang minyak Blok Langgak diserahkan kepada PT SPR Langgak, anak perusahaan PT Sarana Pembangunan Riau (SPR), terjadi penurunan produksi minyak mentah. Namun, Manajer Operasional PT SPR Langgak, Alfriandi, menilai bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar.
"Penurunan itu memang harus terjadi. Kodratnya memang turun atau biasa disebut natural declining," ujar Alfriandi saat ditemui di DPRD Riau.
Alfriandi menjelaskan, penurunan produksi awalnya mencapai sekitar 21 persen per tahun. Namun setelah dilakukan perawatan, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 14 persen, dan kini hanya tinggal 7 persen per tahun. "Saat ini, produksi kami berada di angka 530 hingga 540 barel per hari," jelasnya.
Guna meningkatkan pendapatan, PT SPR Langgak kini tengah menjajaki peluang usaha baru. "Kami berusaha mencari peluang lain karena dalam industri hulu migas, jika kontraknya hanya di satu blok, maka kami hanya bisa beroperasi di situ saja. Kecuali jika mendapat kontrak baru, kami siap mengelolanya," tambahnya.
Terkait pembagian deviden, Alfriandi menyampaikan bahwa PT SPR Langgak sebagai operator Blok Langgak menyerahkan deviden kepada PT SPR sebagai induk perusahaan, bukan langsung ke Pemerintah Provinsi Riau. "Ada kontraktor share. Keuntungan dari penjualan diserahkan ke PT SPR, lalu PT SPR yang menyerahkan deviden ke Pemprov Riau. Kami tidak punya kewenangan langsung," ungkapnya.
Untuk tahun 2025, PT SPR Langgak menargetkan produksi sebesar 541 barel per hari, naik dari 529 barel per hari pada tahun sebelumnya. "Target ini dengan asumsi kami melakukan pengeboran satu sumur baru lagi tahun ini. Namun, itu membutuhkan investasi yang besar, sekitar 2 hingga 3 juta dolar AS," tutupnya. ***


