JAKARTA - Pakar Komunikasi Politik, Lely Arrianie mengungkapkan, partisipasi politik publik cenderung meningkat tiap Pemilihan Umum (Pemilu), khususnya pada Pemilihan Legislatif (Pileg). Tapi sayangnya, partisipasi tersebut masih semu.

"Itu di Medsos (media sosial, red) sejak 2014. Karena begitu bergairah mendukung calon ini dan itu sampai berkelahi suami dan istri, temen-temen sesama wartawan berkelahi dan segala macam. Ada yang di-delete, unfriend, kayaknya partisipasi politiknya tinggi sekali, namun ketika sampai di bilik suara dia membeku," kata Lely di hadapan awak media.

Lely mengatakan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam acara diskusi 4 Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (25/02/2019).

Saat ini, kala Lely, potret partisipasi publik dalam Pemilu telah mengalami perubahan. Penyelenggaraan Pileg dan Pilpres (pemilihan presiden) yang bersamaan pada 17 April 2019 mendatang, memiliki dampak tersendiri. Para Caleg, terbebani lebih untuk meningkatkan partisipasi pemilih.

"Misalnya di Dapil (daerah pemilihan, red) itu, nggak suka pada Pak Jokowi, sedangkan Caleg (Calon Legislatif, red) nya berasal dari partai yang mengusung Jokowi, bagaimana coba?" kata Lely.

Karenanya, kata Lely, diperlukan strategi untuk meningkatkan partisipasi pemilih di pesta demokrasi esok.

"Itu ada teman yang mensiasatinya seperti ini, urusan Pilpres adalah urusan orang pusat (DPP, red). Urusan kita disini, bagaimana saya memperjuangkan hak anda (pemilih, red)/sebagai warga," kata Lely.

Leli melanjutkan, model-model pendekatan demikian, diakomodasi juga oleh budaya politik yang mulai bergeser di Indonesia.***