JAKARTA - Pengamat Politik Adi Prayitno mengatakan konflik PPP seakan menjadi tradisi. Bahkan kutukan bagi partai Islam tertua ini.

"Secara etik politik tentu tak elok. Mestinya PPP menjadi partai yang bisa memberikan contoh dan role model yang baik dalam menghadapi dinamika internal. Karenanya, konflik harus diakhiri. Mukernas momentumnya," kata Adi Prayitno kepada wartawan, Sabtu (14/12/2019).

Adi menyampaikan hal itu berkenaan dengan pelaksanaan Musyarawarah Kerja Nasional (Mukernas) PPP yang digelar hari ini, Sabtu (14/12).

Menurut Adi, langkah terbaik yang diambil elite PPP saat ini adalah semua kekuatan harus bersatu. "Malu juga jika PPP sebagai partai Islam dan partai tertua terus berkonflik," kata Adi Prayitno.

Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan PPP harus menjadi contoh dalam menyelesaikan konflik internal partai.

"PPP seharusnya jadi contoh dalam dalam memaknai perbedaan dan dalam menyelesaikan konflik," kata Adi Prayitno.

Adi menilai konflik di PPP terus terjadi hampir setiap periode. Hal ini perlu segera diselesaikan.

Menurut Adi, sebenarnya konflik di PPP saat ini tidak sekeras sebelumnya. PPP Kubu Humphrey Djemat tidak sekuat PPP kubu Suharso Monoarfa.

Bahkan, kalau mau jujur, kubu Humphrey sebenarnya tak terlampau dianggap eksistensinya oleh kubu Suharso. Jadi, Hamprey mau islah atau tidak tak enting bagi Suharso. Karena PPP sudah relatif kondusif dan mulai solid tanpa Humprey sekalipun.

Meski begitu, Adi menyarankan Suharso tetap mengakomodasi kekuatan kubu Humphrey dan duduk bersama untuk memikirkan masa depan PPP.

Senada dengan Adi, Pengamat Politik Ray Rangkuti menyarankan elite PPP untuk bernegosiasi dan segera bersatu dan solid.

"Lebih baik para elite PPP bersatu dan solid. Jika tidak solid, maka tinggal satu partai yang tidak solid dalam menghadapi Pemilu 2024," kata Ray Rangkuti.

Ray mengingatkan Suharso Monoarfa agar tidak pelit dalam berbagi kekuasaan atau posisi di struktur kepengurusan dengan kader PPP kubu Humphrey.***