MERAUKE - Kondisi yang sangat memprihatinkan dialami 10 orang pelajar dan 1 orang mahasiswa di Kota Merauke, Papua. Mereka mandi, sikat gigi, bahkan minum dari air limbah tetangga.

Bahkan tempat untuk membuang hajat (WC) pun tidak mereka miliki. Selain itu, kolam yang biasa digunakan untuk mandi berdekatan dengan kandang binatang. Mereka terpaksa melakukan itu demi bertahan hidup.

Ironisnya, kehidupan yang jauh dari kata layak ini telah mereka jalani selama kurang lebih 6 tahun, namun luput dari perhatian Pemerintah Daerah. Padahal, tempat tinggal mereka masih sekitaran area Kota.

Diketahui, para pelajar dan mahasiswa ini datang dari Kabupaten Asmat untuk melanjutkan pendidikan. Namun, setibanya di Merauke tidak ada tempat tinggal yang bisa mereka tempati.

Pelajar yang paling tua, Kores Apam mengungkapkan, mereka terpaksa tinggal di tempat itu karena asrama yang disediakan tidak mampu menampung dia dan adik-adiknya.

Dilaporkan Kantor Berita RMOLPapua, akhirnya mereka memilih tinggal di suatu tempat yang diizinkan oleh pemilik tanah untuk ditempati, yaitu di jalan Noari berdekatan dengan SMA 2 Merauke.

“Kami mau tinggal di asrama tapi kami ada 11 orang, tidak bisa karena penuh. Jadi kami terpaksa tinggal di sini dan kami buat rumah sendiri,” ungkap Kores, mahasiswa semester 6 salah satu Perguruan Tinggi di Merauke.

Setelah keberadaan Kores dan adik-adiknya mulai diketahui publik, sejumlah organisasi dan pengusaha mendatangi dan memberikan semangat sekaligus bantuan kepada 11 pemuda ini.

Mulai dari ORARI Lokal Merauke, HMI, Pemuda Katolik, KNPI, dan organisasi lainnya. Secara serentak mereka mendatangi tempat tinggal para pelajar dan menginventarisir kebutuhan mereka.

Dari data yang didapatkan kebutuhan mereka adalah 1 kubik kayu, 24 lembar seng, paku seng 3 kg, paku tujuh 5 kg, beras 50 Kg, lampu 2 buah, 1 belanga, tempat penampung air, dan 1 sendok nasi.

Sekretaris ORARI, Frans, menuturkan keprihatinannya atas kehidupan 11 pemuda ini. Ia berharap ada orang-orang baik yang akan membantu mereka.

“Saya prihatin dengan kehidupan anak-anak ini. Saat saya ketemu mereka langsung saya komunikasi dengan teman-teman yang peduli akhirnya banyak yang datang, terima kasih semua,” katanya dengan mata berkaca-kaca karena terharu dengan kepedulian dari sejumlah orang.

Realitas kehidupan ini menggambarkan kepada kita bahwa generasi muda Papua belum mendapatkan perhatian. Baik pendidikan, kesehatan, maupun ekonominya.

Tidak heran jika mereka kemudian merasa terasingkan di negerinya sendiri.***