JAKARTA – Berakhirnya fase tanggap darurat banjir dan tanah longsor di Aceh serta wilayah Sumatera bukan berarti masalah selesai. Saat tenda pengungsian mulai dibongkar, muncul tantangan besar mengenai arah pembangunan kembali ribuan fasilitas publik dan pemukiman warga yang kini rata dengan tanah.

Anggota DPR RI Komisi II, Azis Subekti, mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak pada rutinitas pembangunan fisik tanpa membenahi akar masalah lingkungan. Ia menilai, banjir dan longsor masif yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh adalah rapor merah relasi manusia dengan ruang hidupnya.

"Kesalahan yang paling sering berulang adalah memandang rehabilitasi dan rekonstruksi semata sebagai proyek pembangunan fisik. Lanskap ekologis yang rusak dibiarkan apa adanya," ujar Azis di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Politisi Fraksi Gerindra ini menekankan bahwa membangun kembali lebih baik (build back better) harus berfondasi pada ekologi. Menurutnya, tanpa restorasi hulu sungai dan pengendalian pembukaan lahan, rumah-rumah baru yang dibangun pemerintah hanya akan menunggu waktu untuk diterjang banjir berikutnya.

Azis menawarkan lima langkah operasional, di antaranya restorasi Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai proyek utama, serta relokasi hunian yang wajib berbasis peta risiko terbaru. Ia menegaskan, pemerintah harus berani mengambil keputusan tidak populer untuk mengosongkan zona rawan secara permanen demi keselamatan nyawa warga.

"Setiap keputusan relokasi harus didasarkan pada kajian geologi, hidrologi, dan perubahan iklim lokal. Ini jauh lebih jujur dan berkelanjutan," tambahnya.

Selain itu, Azis mendorong penguatan ekonomi desa berbasis jasa lingkungan dan perlindungan pesisir untuk menjaga kedaulatan fisik negara dari abrasi. Ia mendesak agar indikator pemulihan tidak hanya diukur dari berfungsinya layanan pemerintah, tetapi juga pulihnya stabilitas tanah dan tutupan vegetasi.

Bagi Azis, momentum rehabilitasi ini adalah ujian apakah negara berani belajar dari kesalahan masa lalu. Membangun dengan bijak dan selaras dengan alam dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menumbuhkan kembali kepercayaan warga yang telah kehilangan segalanya akibat bencana.***