PEKANBARU – Dinas Kesehatan mencatat jumlah kumulatif penderita Human Immunodeficiency Virus di Kota Pekanbaru menyentuh angka 3.700 kasus hingga triwulan pertama tahun 2026. Merespons tingginya angka tersebut, pemerintah setempat merutinkan pembinaan serta edukasi tentang bahaya dan cara penularan virus kepada kelompok masyarakat di wilayah berisiko tinggi.

Penyebaran penyakit yang tidak menunjukkan gejala awal ini menuntut tindakan cepat dari hulu hingga hilir agar penderita bisa mendapatkan pengobatan yang tepat sasaran. Plh Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Dedi Sambudi, menjelaskan bahwa penyisiran langsung ke sejumlah lokasi rawan menjadi strategi utama untuk mendeteksi keberadaan infeksi pada warga.

"HIV ini kan bisa ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual, pemakaian jarum suntik, transfusi darah. Kita akan cek, bina lagi masyarakat beresiko," jelas Plh Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Dedi Sambudi, Kamis (21/5/2026).

Pendampingan bagi warga yang positif terinfeksi juga terus dilakukan agar mereka tetap disiplin menjalani terapi medis. Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan instansinya tidak segan mendatangi pasien yang enggan atau lupa mengambil jatah obat di fasilitas kesehatan terdekat.

"Selama ini orang yang terkena HIV, ada yang aktif mengambil obatnya ke puskesmas, ada juga yang tidak. Ini kita beri edukasi, kita jemput bola," ungkap Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho.

Ia menambahkan bahwa ikhtiar medis ini tidak hanya berpusat menunggu pasien di fasilitas pelayanan saja, melainkan langsung menyentuh pusat-pusat interaksi masyarakat seperti di lokalisasi.

"Kami sudah melakukan pemeriksaan di Jondul untuk pemeriksaan HIV. Kami terus melakukan pemeriksaan," tambahnya. ***