TEHERAN - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Teheran melontarkan peringatan keras terhadap aset-aset energi Washington di kawasan Teluk. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa fasilitas minyak dan gas Amerika di sekitar Selat Hormuz sangat rentan terhadap serangan balasan.

"Serang aset-aset kami, dan Anda akan diserang," tegas Ghalibaf, Selasa (8/9/2026), seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters.

Bagher Ghalibaf menambahkan bahwa pihaknya telah membuktikan kemampuan tersebut melalui berbagai insiden sebelumnya di kawasan perairan strategis tersebut.

Konflik Enam Bulan dan Dampak Energi Global

Ketegangan militer ini mendorong harga minyak dunia mendekati level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Hingga kini, belum terlihat adanya kemajuan jalur diplomasi guna mengakhiri konflik yang sudah berlangsung selama enam bulan terakhir serta memulihkan arus pasokan energi global. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, Iran memperketat pembatasan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.

Eskalasi meningkat setelah pasukan Amerika Serikat menyerang setidaknya tiga kapal tanker Iran pada akhir pekan lalu. Dua di antara kapal tersebut sedang berlabuh di Pulau Kharg yang berfungsi sebagai terminal ekspor minyak utama Teheran. Sebagai bentuk balasan, Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz serta kapal yang berkaitan dengan militer AS.

Saling Ancam Antar-Pejabat Tinggi

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM merilis rekaman video pada Sabtu (5/9/2026) yang memperlihatkan penargetan terhadap kapal-kapal Iran. Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyampaikan peringatan tegas agar Teheran menghentikan serangan.

"Kami tidak akan ragu untuk membela pasukan Amerika dan, jika perlu, menghancurkan armada minyak Iran yang jumlahnya terbatas dan rentan," tegas Cooper.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut menyebarkan ulang rekaman tersebut melalui platform media sosial X dengan menyertakan peringatan lanjutan untuk pemerintah Iran.

"Sederhana saja: Jika Iran menembaki kapal-kapal AS, kita akan menghancurkan kapal-kapal tanker minyak mereka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah tidak menembaki Angkatan Laut AS," tandas Hegseth.

Menanggapi pernyataan tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan kembali posisi negaranya dalam menghadapi ancaman militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

"Sederhana saja: Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan ini dan fasilitas-fasilitasnya juga menghadapi kerentanan yang sama," sebut Ghalibaf.***