JAKARTA – Hendra Kurniawan mengakui pernah menyelidiki dugaan setoran Ismail Bolong kepada Kabareskrim Komjen Agus Andrianto. Penyelidikan itu dilakukan saat dirinya menjabat sebagai Karopaminal Divpropam Polri.

"Betul, iya. Tanya pejabat yang berwenang aja, kan ada datanya," ujar Hendra sebelum menjalani sidang dugaan pengrusakan CCTV hingga menghambat penyidikan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, di PN Jaksel, Kamis (24/11/2022), seperti dikutip dari detik.com.

Saat ditanya, apakah benar kasus yang diusutnya itu menyeret nama Kabareskrim, Hendra mengatakan faktanya memang demikian.

"Ya kan sesuai faktanya begitu," ujar Hendra.

Isu adanya mafia tambang ini sebelumnya ramai di media sosial usai video Ismail Bolong yang mengaku menyetor uang ke Kabareskrim sebesar Rp6 miliar beredar. Ismail Bolong, dalam video itu, mengaku bekerja sebagai pengepul batu bara dari konsesi tanpa izin.

Kegiatan ilegal itu disebutnya berada di daerah Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, yang masuk wilayah hukum Polres Bontang. Dia mengatakan kegiatan ilegal itu dilakukan sejak Juli 2020 sampai November 2021.

Dalam kegiatan pengepulan batu bara ilegal, Ismail Bolong mengaku mendapat keuntungan sekitar Rp5-10 miliar setiap bulan. Ismail mengaku telah berkoordinasi dengan Kabareskrim Komjen Agus Andrianto dan telah memberikan uang sebanyak tiga kali pada September 2021 sebesar Rp 2 miliar, Oktober sebesar Rp 2 miliar, dan November 2021 sebesar Rp2 miliar.

Belakangan, Ismail Bolong menyampaikan permintaan maaf. Dalam video permintaan maafnya itu, Ismail Bolong mengaku ditekan dan pernyataannya soal setoran ke Kabareskrim tidak benar.

Ismail mengatakan bahwa saat itu ditekan oleh Hendra Kurniawan. Dia mengaku diancam agar memberikan testimoni terkait Kabareskrim.

"Untuk memberikan testimoni kepada Kabareskrim dengan penuh tekanan dari Pak Hendra, Brigjen Hendra. Pada saat itu saya berkomunikasi melalui HP anggota Paminal dengan mengancam akan dibawa ke Jakarta kalau nggak melakukan testimoni," kata Ismail.***