PEKANBARU - Peningkatan harga komoditas hasil panen membawa angin segar bagi para pelaku sektor agrikultur di Provinsi Riau. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat adanya tren positif pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang mengalami kenaikan menjadi 194,29 pada Juli 2026, bergeser naik sebesar 0,31 persen dari posisi 193,69 di bulan sebelumnya.

"Peningkatan NTP ini disebabkan oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,39 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,08 persen," papar Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, Jumat (21/8/2026).

Sebagai indikator utama pengukur kesejahteraan, NTP digunakan untuk melihat kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap harga barang kebutuhan sehari-hari maupun ongkos operasional. Semakin tinggi angka indeksnya, maka daya beli petani dinilai semakin kuat.

Tren Kenaikan di Sumatra

Asep menjelaskan bahwa pergerakan indeks di Riau tersebut sejalan dengan kondisi mayoritas wilayah Pulau Sumatra. Tercatat, sembilan dari sepuluh provinsi tetangga juga menikmati tren serupa pada periode yang sama.

Provinsi Kepulauan Riau memimpin dengan lonjakan tertinggi mencapai 2,28 persen, disusul Lampung 2,11 persen, dan Bengkulu sebesar 1,68 persen. "Sementara itu, Sumatra Selatan menjadi satu-satunya provinsi di Sumatra yang mengalami penurunan NTP, yakni sebesar 0,81 persen," urainya.

Dinamika Konsumsi Rumah Tangga

Seiring dengan pergerakan NTP, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pertanian di wilayah Riau juga terkerek sebesar 0,05 persen. Pergerakan ini didorong oleh naiknya pengeluaran pada kelompok transportasi sebesar 1,51 persen, disusul sektor pendidikan 1,19 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,78 persen.

Beberapa kelompok kebutuhan pokok lainnya turut merangkak naik. Kenaikan terjadi pada perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen, penyediaan makanan dan restoran 0,15 persen, kesehatan 0,10 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,09 persen. Selanjutnya, pos perumahan, air, listrik, dan bahan bakar lainnya juga naik 0,05 persen, disusul informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,02 persen.

Meski demikian, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat turun 0,33 persen, beriringan dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang ikut menyusut sebesar 0,32 persen.

Pertumbuhan Nilai Tukar Usaha

Selain indikator konsumsi, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di Riau turut membukukan rapor hijau. Indeks yang berfokus pada operasional tani ini meningkat 0,21 persen, yakni dari level 188,65 pada Juni menjadi 189,04 pada Juli 2026.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 0,39 persen, yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan ongkos produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,18 persen. "Capaian ini menunjukkan adanya peningkatan pada nilai tukar usaha pertanian di Riau pada Juli 2026," pungkasnya. ***