SEMARANG - Jutaan petani kopi di Indonesia hingga kini masih banyak yang bergantung pada penjualan biji mentah. Padahal, potensi ekonomi dari produk olahan jauh lebih menjanjikan. Anggota DPR RI, Hendry Munief mendorong penguatan sektor pengolahan kopi nasional agar petani dan pengusaha lokal mampu meraup nilai tambah yang berlipat ganda.

Dorongan ini ia sampaikan langsung saat melakukan kunjungan kerja spesifik bersama Komisi VII DPR RI ke fasilitas pabrik PT Santos Jaya Abadi di Kota Semarang, yang berlangsung sejak Jumat hingga Sabtu (5/9/2026). Dalam kunjungannya, Hendry menyoroti besarnya peluang pasar yang belum digarap maksimal oleh para pelaku industri di Tanah Air.

Berdasarkan catatan yang ada, Indonesia menempati posisi keempat sebagai produsen kopi terbesar dunia dengan hasil panen mencapai 834 ribu ton pada tahun 2025 lalu. Menariknya, dari angka tersebut, mayoritas atau sekitar 98,6 persen merupakan perkebunan yang dikelola langsung oleh rakyat.

Meski panen melimpah, kapasitas industri pengolahan di dalam negeri yang dirancang mampu menampung 1,81 juta ton baru terpakai sekitar 51 persen. Tingkat utilisasi ini baru menghasilkan produksi sekitar 928 ribu ton produk olahan. Hendry menekankan perlunya peningkatan pemanfaatan mesin industri yang dibarengi dengan jaminan ketersediaan bahan baku, penguasaan teknologi pascapanen, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta ikatan kemitraan yang erat bersama petani.

"Peluang ekspor produk olahan kita masih terbuka lebar karena ekspor tahun lalu saja mencapai 182.441 ton senilai USD692,1 juta dan telah menjangkau lebih dari 80 negara. Untuk itu kita mengharapkan sektor industri memperbesar porsi produk bernilai tambah," papar Hendry.

Tolok Ukur Hilirisasi dan Potensi Riau

Lebih jauh, Ketua Forum Bisnis Riau ini mengingatkan bahwa parameter keberhasilan hilirisasi tidak boleh sekadar dilihat dari jumlah pabrik yang beroperasi. Ia lebih mengedepankan pendekatan pengawasan berbasis data yang mencakup pemanfaatan kapasitas aktual, pencapaian nilai ekspor, efisiensi biaya produksi dan logistik, hingga tingkat produktivitas tenaga kerja.

"Keberhasilan hilirisasi tidak diukur dari asap yang keluar dari cerobong pabrik, melainkan dari margin daya saing, ekspor, lonjakan nilai dan keadilan harga domestik yang terekam dalam angka," tegasnya.

Prinsip penguatan nilai tambah ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan di Riau, khususnya bagi komoditas kopi Liberika yang berasal dari Kepulauan Meranti. Menurut Hendry, kekhasan kopi tersebut pantas mendapat perhatian penuh dari pemerintah agar tidak sekadar dijual murah sebagai bahan baku mentah.

Kopi kebanggaan masyarakat Melayu Riau tersebut saat ini sudah memiliki pasar yang luas, terutama di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang secara geografis berbatasan langsung dengan Kepulauan Meranti.

"Kopi Liberika ini sudah ternama. Pengembangan komoditas ini hingga ke sektor hilirisasi tentu akan sangat membantu Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai daerah penghasil, dan pastinya masyarakat petani di sana akan sangat terbantu," pungkasnya. ***