PEKANBARU –Harga ayam potong di Pekanbaru menembus Rp40 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram. Kenaikan itu membuat komoditas yang selama ini menjadi salah satu sumber protein relatif terjangkau semakin membebani pengeluaran masyarakat.

Harga tersebut tercatat di sejumlah pasar tradisional Pekanbaru. Sebelumnya, ayam potong masih berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Pedagang di Pasar Cik Puan bahkan menyebut harga sebelumnya berada di sekitar Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram.

Akademisi Ekonomi Universitas Riau, Dr. Gatot Wijiyanto, S.E., M.Si., menilai mahalnya harga pangan seharusnya tidak hanya diukur dari nominal harga barang. Ukuran yang lebih relevan ialah daya beli masyarakat atau perbandingan harga barang dengan pendapatan yang diterima pekerja.

“Kalau kita membandingkan harga ayam dengan pendapatan masyarakat, persoalannya bukan sekadar berapa harga ayam per kilogram. Yang perlu dilihat adalah berapa bagian dari pendapatan masyarakat yang harus digunakan untuk membeli satu kilogram ayam,” ujar Gatot kepada Goriau pada Minggu 23 Agustus 2026.

UMK Pekanbaru 2026 ditetapkan sebesar Rp3.998.179 per bulan. Dengan harga ayam Rp40 ribu per kilogram, seorang pekerja yang menerima upah minimum harus mengeluarkan sekitar 1 persen dari pendapatan bulanannya hanya untuk membeli satu kilogram ayam.

Jika harga ayam mencapai Rp42 ribu, porsinya meningkat menjadi sekitar 1,05 persen dari UMK. Persentase tersebut terlihat kecil, tetapi akan menjadi lebih berat ketika kebutuhan rumah tangga lain seperti beras, telur, minyak goreng, transportasi dan biaya tempat tinggal ikut diperhitungkan.

Menurut Gatot, perbandingan dengan negara lain juga perlu menggunakan pendekatan yang sama. Australia, misalnya, memiliki harga ayam yang secara nominal jauh lebih tinggi jika dikonversikan ke rupiah. Dengan asumsi harga ayam A$8 per kilogram, nilainya sekitar Rp100 ribu lebih per kilogram.

Namun pekerja Australia memiliki tingkat pendapatan minimum yang jauh lebih tinggi. Upah minimum nasional Australia sejak 1 Juli 2026 mencapai A$1.004,90 per minggu atau A$26,44 per jam.

Dengan asumsi pendapatan minimum sekitar A$4.350 per bulan, harga ayam A$8 hanya sekitar 0,18 persen dari pendapatan bulanan tersebut. Perbandingan itu menunjukkan bahwa ayam Australia memang lebih mahal secara nominal, tetapi relatif terhadap pendapatan, bebannya terhadap pekerja jauh lebih kecil.

“Jadi yang perlu kita lihat adalah affordability atau keterjangkauan. Harga Rp40 ribu mungkin terlihat lebih murah dibandingkan harga dalam dolar Australia. Tetapi ketika dibandingkan dengan pendapatan masyarakat, beban yang dirasakan masyarakat Pekanbaru bisa lebih besar,” kata Gatot.

Kondisi itu menjadi penting karena kenaikan harga ayam di Pekanbaru terjadi cukup cepat. Dari kisaran Rp25 ribu-Rp27 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram, kenaikannya hampir 48 persen.

Kenaikan harga juga terjadi ketika pasokan ayam di pasar tradisional disebut berkurang. Pedagang Pasar Cik Puan sebelumnya bisa memperoleh delapan hingga 10 kotak ayam, tetapi kini hanya mendapatkan sekitar tiga hingga empat kotak.

Pemerintah Provinsi Riau menyebut kenaikan harga ayam juga terjadi secara nasional. Hingga pekan kedua Agustus 2026, harga daging ayam secara nasional naik 4,92 persen dibandingkan Juli. Di Riau, harga ayam ras secara umum masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen sebesar Rp40 ribu per kilogram, meski harga di sejumlah pasar Pekanbaru telah melampaui angka tersebut.

Gatot menilai pemerintah perlu membedah persoalan dari hulu hingga hilir. Kenaikan harga tidak cukup ditangani dengan operasi pasar atau pemantauan harga, tetapi perlu melihat produksi, harga pakan, distribusi, penyerapan ayam dan margin pada setiap mata rantai perdagangan.

“Kalau pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga akan terdorong naik. Pemerintah perlu memastikan apakah masalahnya berada di produksi, distribusi atau struktur pasarnya. Jangan sampai konsumen membayar mahal, tetapi peternak tidak menikmati kenaikan harga tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Disperindag Pekanbaru menyebut kenaikan harga ayam dipengaruhi berkurangnya pasokan dari distributor, meningkatnya harga pakan ayam ras serta kembali beroperasinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk program Makan Bergizi Gratis.

Menurut Gatot, pemerintah juga perlu memperhatikan dampak kenaikan harga ayam terhadap inflasi dan konsumsi rumah tangga. Ayam merupakan salah satu komoditas pangan yang dikonsumsi secara luas sehingga perubahan harganya dapat langsung dirasakan masyarakat.

Persoalannya, kata dia, bukan semata-mata apakah harga ayam Pekanbaru lebih murah atau lebih mahal dibandingkan Australia. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat membeli komoditas tersebut dengan pendapatan yang mereka terima.

Dengan ukuran itu, harga ayam Rp40 ribu di Pekanbaru menjadi persoalan daya beli. Sebab, harga pangan yang meningkat akan semakin mempersempit ruang pengeluaran masyarakat berpendapatan rendah untuk memenuhi kebutuhan lainnya. ***