JAKARTA, GORIAU.COM - Pakar penerbangan terkemuka mengatakan, pesawat AirAsia QZ8501 tidak dilengkapi dengan radar multiscan. Hal itu yang membuat pesawat tersebut kemungkinan tidak bisa menghindari badai sehingga tragedi terjadi.

Radar itu mampu mendeteksi cuaca buruk mulai curah hujan hingga badai es. Menurut The Australian, Qantas menjadi maskapai pertama pada tahun 2002 yang menginstal radar cuaca multiscan. Biayanya sekitar Rp2,5 miliar untuk masing-masing pesawat.

Menurut media Australia itu, meskipun alat ini sekarang menjadi standar untuk sebagian besar pesawat baru termasuk armada Qantas, banyak operator maskapai penerbangan yang belum menginstalnya, termasuk AirAsia.

Ahli penerbangan Geoffrey Thomas, mengatakan instalasi radar multiscan cenderung berbeda ketika pesawat bermanuver dalam kondisi aman dan ketika terjadi bencana.

''Pilot mengatasi badai dengan luar biasa, dia menjaga radar mereka dengan hati-hati,'' kata Thomas. ''Radar adalah hal-hal yang luar biasa, tetapi (radar) mereka tidak sempurna,'' katanya lagi, Sabtu (3/1/2014).

''Radar multiscan terus memindai dasar badai. Kemudian menghitung untuk (analisa) yang dibutuhkan pilot terkait ketinggian dari badai berdasarkan kelembaban,'' kata produsen alat itu, Rockwell Collins kepada The Australian.

Radar cuaca multiscan dapat mendeteksi badai yang berjarak ribuan meter di atas permukaan bumi. Tapi para ahli percaya AirAsia QZ8501 tidak memasang radar tersebut.

Sementara itu, CEO AirAsia, Tony Fernandes, mengatakan belum tepat untuk berspekulasi tentang penyebab kecelakaan itu. Tapi, menurutnya, cuaca memang terkait dengan insiden QZ8501.

''Kita tidak bisa membuat asumsi tentang apa yang salah,'' katanya, Selasa lalu. ''Yang bisa saya katakan adalah bahwa cuaca di Asia Tenggara buruk untuk saat ini.'' ***