TELUKKUANTAN - Universitas Islam Kuantan Singingi (Uniks) terus berupaya meningkatkan mutunya. Apalagi, budaya mutu Perguruan Tinggi merupakan salah satu upaya dalam peningkatan mutu Pendidikan Tinggi. 

Melalui LPMP Uniks terus dilaksanakan melaksanakan berbagai kegiatan untuk tingkatkan mutu, seperti lokakarya untuk membangun dan mengembangkan budaya mutu, yang dilangsungkan di Balai Diklat Wisma Jalur Telukkuantan, 24 hingga 29 Juni mendatang. Dengan menghadirkan akademisi dari Universitas Andalas (Unand). Hadir Wakil Rektor II Tri Nopsagiarti SP MSi dan Wakil Rektor III Drs H Sarmidin MPdI, Ketua LPMP Chitra Hermawan MT, Ketua LPPM H Fitrianto SAg MSy, pihak yayasan diwakili oleh Prof Suwardi MS.

Wakil Rektor II Tri Nopsagiarti SP MSi menegaskan, bahwa kampus yang menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing ini terus berbenah meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan. Baik untuk tenaga pengajar maupun untuk mahasiswanya. Hal ini dilakukan, katanya, demi memajukan Uniks. Apalagi bahwa prodi yang terakreditasi peringkat B masih sedikit dari 13 prodi yang ada. "Dan masih banyak yang terakreditasi peringkat C," ungkapnya.

Sedangkan Ketua YPTIK yang diwakili oleh Prof Suwardi MS mengakui mutu di uniks masih kurang. "Sampai hari ini mutu pendidikan tinggi kita masih kurang menggembirakan, hal ini dikarenakan usianya yang masih mudah (6 tahun). Dimana Uniks dibangun dari penggabungan sekolah tinggi yang unggul sehingga diharapkan universitasnya juga harus menjadi universitas yang unggul," harapnya.

Ads
Lalu, Ketua LPMP Uniks Chitra Hermawan MT juga menegaskan pentingnya meningkatkan mutu kampus. "Melihat antusiasme semua. Kami terus termotivasi untuk menjadikan perguruan tinggi ini berorientasi kepada mutu dan customer satisfaction dalam membangun budaya mutu melalui sistem penjaminan mutu internal (SPMI)," katanya.

Tentu kita berharap baik pemerintah dan perguruan tinggi mampu mentransformasikan, menyebarluaskan pengetahuan, nilai-nilai budaya mutu pendidikan melalui kebijakan, pola pikir, pola sikap dan pola tindakan segenap akademika untuk bersama-sama membangun meningkatkan mutu pendidikan tinggi," sambung Chitra.

Namun demikian, tidak hanya sebatas itu saja karena dalam peningkatan mutu perguruan tinggi  disadari Chitra, tidak terlepas dari sarana dan prasarana, terutama gedung kampus yang juga harus mendapat perhatian serius. "Dalam hal ini sangat diharapkan adanya campur tangan dari pemerintah daerah, karena sejatinya Uniks adalah milik kita," tegasnya. 

Menurut narasumber Dedi, budaya mutu penting dimiliki kampus. "Budaya  mutu dapat kita jadikan sebagai kajian untuk  mengindentifikasi berbagai permintaan  stakeholder dan user lulusan perguruan tinggi tentang  kompetensi peserta didik yang akan dihasilkannya, sehingga akan memperkaya substansi  kurikulum  serta  menuntut  kreativitas  dan  dinamika pengelolaan perguruan tinggi guna dapat memenuhi  permintaan dan kebutuhan stakeholder maupun user," sebutnya.

Selanjutnya, dilakukan deklarasi dan penandatanganan MoU. Antara LPMP Uniks dan LP3M Unand. "Harapan kita semua setelah ini semua prodi yang masih terakredasi peringkat C bisa segera kita tingkatkan menjadi B bahkan A. Karena dengan peningkatan mutu akreditas secara otomatis lulusan yang dihasilkan juga ikut meningkat mutunya sehingga akan berkontribusi positif bagi pembangunan baik daerah, nasional maupun dunia," harap Wakil Rektor II Unand Tri Nopsagiarti SP MSi.***