PEKANBARU - Paranet hitam itu menggantung seperti kain duka. Ia membelit tubuh sepasang bujang dan dara yang membeku dalam gerak Tari Zapin, tepat di jantung Kota Pekanbaru. Dari kejauhan, Tugu Zapin masih tampak berdiri tegak, menjulang, seolah tak tersentuh waktu. Namun ketika didekati, luka-lukanya tak lagi bisa disembunyikan. Rangka besi di bagian tubuh patung terlihat keropos. Lubang-lubang menganga menandai bagian tembaga yang telah raib, dicongkel oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Tugu itu berdiri persis di depan Kantor Gubernur Riau yang merupakan pusat kekuasaan administratif provinsi. Namun justru di hadapan simbol pemerintahan itulah, ikon kebudayaan Melayu Riau dibiarkan menua dalam kerusakan. Ia berdiri, tetapi pincang. Ia hadir, tetapi seperti dilupakan.

Ironi itu mencapai puncaknya pada Minggu (11/1/2026) pagi. Jalan Gajah Mada Pekanbaru menjelma hamparan samudera manusia. Sekitar 6.000 penari menyesaki ruas jalan, menyatukan tubuh dan irama dalam Tari Zapin Massal. Di bawah langit Minggu yang cerah, gerak-gerak itu mengalir serempak, ritmis, magis, menjadi pernyataan bahwa Zapin masih hidup, masih berdenyut, masih dicintai.

Kegiatan yang diinisiasi Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau itu tampil megah. Zapin dirayakan. Zapin dipamerkan. Zapin diangkat sebagai simbol kebanggaan budaya Melayu.

Namun hanya beberapa ratus meter dari panggung utama, Tugu Zapin yang jadi simbol permanen kebudayaan yang mereka tarikan tetap terbungkus paranet hitam. Retak. Terluka. Terabaikan.

Zapin ditarikan di jalanan. Zapin dirayakan dalam peristiwa kolosal. Tetapi Zapin yang dibakukan dalam monumen, justru menjadi saksi bisu dari sebuah pengabaian yang panjang.

Harapan, Persepsi, dan Kekecewaan

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau, Ego Prayogo, menilai Tari Zapin merupakan warisan budaya yang luar biasa karena mampu dijaga lintas generasi. Dari masa lalu hingga kini, Zapin tetap hidup sebagai identitas masyarakat Melayu Riau.

“Tari Zapin itu simbol kuat budaya Melayu. Ia hidup dari generasi ke generasi dan menjadi kebanggaan masyarakat Riau,” ujar Ego kepada Goriau, Senin (12/1/2026).

Namun kebanggaan itu, menurut Ego, berbanding terbalik dengan kondisi Tugu Zapin yang justru dibiarkan rusak. Sebagai ikon Provinsi Riau, tugu tersebut seharusnya menjadi wajah kebudayaan di ruang publik, bukan potret pengabaian.

“Kami sebagai mahasiswa sangat menyayangkan. Tugu Zapin itu ikon Provinsi Riau, tapi kondisinya dibiarkan rusak. Seolah-olah kebanggaan Melayu kita tidak dianggap, bahkan seperti diinjak-injak,” kata Ego. 

GoRiau Pimpinan Provinsi Riau bersama
Pimpinan Provinsi Riau bersama 6000 penari zapin. Kegiatan ini dilakukan tepat berada di depan Tugu Zapin yang telah suram.

Ia menilai persoalan ini bukan hal baru. Kerusakan Tugu Zapin telah berlangsung lama dan seharusnya sudah ditangani sejak awal. Namun hingga kini, masalah tersebut terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.

“Sudah berapa kali ganti gubernur, dari yang lama ke yang baru, lalu berganti lagi, tapi persoalan ini tetap tidak selesai. Ini menunjukkan ada kelalaian yang terus berulang,” ujarnya.

Menurut Ego, pembiaran terhadap ikon budaya mencerminkan lemahnya komitmen pemerintah dalam menjaga identitas daerah. Jika monumen yang menjadi wajah provinsi saja tak terawat, kepercayaan publik terhadap keseriusan pemerintah pun bisa terkikis.

“Kalau ikon budaya saja tidak dijaga, bagaimana masyarakat bisa yakin bahwa pemerintah serius membangun Riau, bukan hanya dari sisi fisik, tapi juga dari nilai dan jati diri,” katanya.

Ego menegaskan, mahasiswa dan masyarakat berhak menuntut perbaikan karena dana pembangunan berasal dari pajak rakyat.

“Masyarakat membayar pajak untuk Riau yang lebih baik. Tahun 2026 ini seharusnya menjadi momentum untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dasar seperti ini, bukan terus ditunda,” ujar Ego.

Baginya, menjaga Tugu Zapin bukan semata soal memperbaiki bangunan, melainkan membenahi wajah Riau secara menyeluruh.

“Menjaga Tugu Zapin itu sama saja membenahi Riau, dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Dari simbol, lahir kepercayaan publik. Dari simbol, tumbuh rasa bangga,” katanya.

Keluhan serupa juga datang dari warga. Fajri, mahasiswa Universitas Riau sekaligus warga Pekanbaru, mengaku prihatin setiap kali melintasi kawasan Tugu Zapin.

“Jujur saja, saya merasa malu setiap kali melewati jalan di sekitar Tugu Zapin. Apalagi kalau sedang ramai, rasanya seperti kita tidak peduli dengan identitas sendiri,” ujar Fajri, Senin (12/1/2026).

Perasaan itu kerap muncul setiap Minggu pagi, saat kawasan tersebut menjadi bagian dari car free day (CFD). Tugu Zapin, menurut Fajri, seharusnya menjadi titik kebanggaan dalam ruang publik.

“Setiap Minggu pagi saya sering lari di area CFD. Tugu Zapin itu kan bagian dari kawasan ini. Harusnya jadi ruang publik yang membanggakan, tapi sekarang justru bikin miris,” katanya.

Ia khawatir pembiaran ini berdampak pada generasi muda. Jika ikon budaya dibiarkan rusak, rasa memiliki terhadap kebudayaan bisa perlahan memudar.

“Kalau simbolnya saja rusak dan dibiarkan, anak muda bisa merasa kebudayaan itu tidak penting. Padahal seharusnya justru dikenalkan dan dirawat,” ujarnya. 

GoRiau Tampak belakang Tugu Zapin. (f
Tampak belakang Tugu Zapin. (foto: afrila yobi/goriau.com)

Tugu Zapin bukan sekadar patung yang berdiri di tengah lalu lintas Pekanbaru. Ia adalah penanda ingatan kolektif, sebuah upaya membekukan identitas Melayu Riau ke dalam ruang publik. Dibangun menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau pada 2012, tugu ini sejak awal diproyeksikan sebagai wajah kebudayaan daerah, menyambut tamu dari berbagai penjuru Indonesia.

Sebelum Zapin berdiri, lokasi strategis di Bundaran Jalan Jenderal Sudirman–Jalan Gajah Mada itu pernah diisi oleh tugu pesawat tempur. Pergantian simbol itu bukan tanpa makna. Pemerintah Provinsi Riau kala itu ingin menggeser narasi: dari simbol militeristik menuju ekspresi kebudayaan Melayu yang lebih lembut, berakar, dan berumur panjang.

Dari sudut pandang akademik, dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata FISIP Universitas Riau, Firdaus Yusrizal, menilai kondisi Tugu Zapin berpotensi menimbulkan kekecewaan bagi pengunjung.

“Dengan kondisi sekarang, tentu bisa menimbulkan kekecewaan bagi orang yang berkunjung. Setiap orang punya persepsinya masing-masing ketika melihat langsung,” ujar Firdaus.

Menurut dia, monumen bukan sekadar benda fisik. Ia adalah wajah dan identitas kota yang menanamkan ingatan kolektif.

“Orang melihat Monas, ingat Jakarta. Orang menyebut Eiffel, ingat Paris. Monumen itu berfungsi menanamkan ingatan. Tapi jangan dilihat sebagai benda besi yang berdiri begitu saja. Ada makna dan fungsi simboliknya,” katanya.

Firdaus menjelaskan, dalam teori pariwisata, kepuasan pengunjung ditentukan oleh kesesuaian antara harapan dan kenyataan.

“Kalau harapan lebih besar dari kenyataan yang didapat, itu disebut ketidakpuasan. Itu yang terjadi ketika orang datang dengan ekspektasi tinggi, lalu melihat kondisi Tugu Zapin yang rusak,” ujarnya.

Ia menilai tanggung jawab perawatan monumen seharusnya bersifat kolektif. Pemerintah memang memegang peran utama, tetapi masyarakat dan komunitas budaya juga memiliki tanggung jawab pengawasan.

“Di banyak tempat, monumen dirawat karena ada aktivitas publik di sekitarnya—pencahayaan, pengawasan, keterlibatan komunitas. Itu yang kurang kita miliki,” katanya.

Tak banyak yang tahu, material utama Tugu Zapin menggunakan kombinasi tembaga dan logam khusus berlapis perak, bahan yang lazim digunakan Nuarta dalam karya-karyanya karena daya tahannya terhadap cuaca tropis. Pada awal peresmiannya, permukaan tugu berkilau ketika matahari pagi menyentuh lekuk gerak penari—detail yang sengaja dirancang agar Zapin “hidup” di tengah kota.

Dalam berbagai materi promosi pariwisata, video pengenalan daerah, hingga pamflet kebudayaan, siluet Tugu Zapin kerap ditampilkan sebagai wajah Pekanbaru. Ia diharapkan bekerja seperti Monas di Jakarta atau Menara Eiffel di Paris: sekali melihat, orang langsung mengingat kota.

Namun fungsi simbolik itu kini terganggu

Penggiat seni Kota Pekanbaru, Deni Afriadi, melihat persoalan Tugu Zapin tidak bisa dilepaskan dari pembangunan mental masyarakat.

“Keberhasilan peradaban tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan mental dan pola pikir masyarakatnya,” ujar Deni.

Menurut dia, vandalisme yang terjadi pada Tugu Zapin mencerminkan lemahnya rasa memiliki terhadap simbol budaya.

“Kita bisa belajar dari Yogyakarta. Seluruh masyarakat akan bereaksi keras jika terjadi vandalisme pada Tugu Jogja. Mentalitas seperti itu belum sepenuhnya tumbuh di sini,” katanya.

Deni menilai penyelenggaraan Zapin Massal memiliki dua sisi. Di satu sisi menunjukkan kebudayaan Riau masih dinamis, namun di sisi lain memperlihatkan kontras yang menyedihkan dengan kondisi tugu.

“Perayaan itu bagus. Tapi miris juga melihat ikon Zapin justru terbengkalai. Semoga ini jadi momentum untuk segera diperbaiki,” ujarnya.

Pengamat perkotaan Universitas Riau, Dr Ikhsan, menilai Tugu Zapin menyangkut citra dan wibawa pemerintah daerah.

“Tugu Zapin harus segera dibenahi, karena ini bukan hanya ikon kota, tetapi juga marwah pemerintah daerah,” kata Ikhsan.

Menurut dia, letak tugu yang strategis, tepat di depan Kantor Gubernur Riau seharusnya menjadi perhatian utama.

“Kalau pemerintah tidak bisa merawat ikon di depan hidungnya sendiri, bagaimana bisa merawat infrastruktur di tempat yang jauh,” ujarnya.

Pemerintah Janjikan Renovasi

Pemerintah Provinsi Riau menyatakan komitmen untuk memperbaiki Tugu Zapin. Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, mengatakan rencana renovasi telah dibahas dan masuk agenda prioritas.

“Kemarin sudah dirapatkan oleh PUPR Provinsi Riau dan sudah dihitung biayanya. Semoga bisa segera diselesaikan,” ujar Syahrial, Kamis (18/12/2025).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR-PKPP Riau melalui Kabid Cipta Karya, Novri Ilham, menyebut anggaran perbaikan sebesar Rp1,6 miliar telah disiapkan pada APBD 2026.

“Kita sudah mendapat perintah pimpinan untuk memperbaiki Tugu Zapin. Anggaran sudah disiapkan, sekarang proses persiapan lelang,” katanya, Rabu (24/12/2025).

Jika berjalan sesuai rencana, pengerjaan fisik ditargetkan dapat dimulai setelah Lebaran 2026.

Di tengah janji itu, Tugu Zapin masih berdiri dalam balutan paranet hitam—menunggu apakah ia akan kembali menjadi kebanggaan, atau terus menjadi monumen dari pengabaian panjang terhadap identitas budaya Riau. ***