JAKARTA – Setelah mencatatkan reli yang luar biasa, harga emas dunia akhirnya "mendingin" pada perdagangan Selasa (10/2/2026). Penurunan tajam ini didorong oleh aksi investor yang mulai memanen keuntungan (profit taking) sembari mengintip rilis data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan meluncur pekan ini.

Meskipun terkoreksi, daya pikat emas belum pudar. Logam mulia ini masih perkasa bertengger di atas level psikologis 5.013 Dolar AS per ons, menandakan bahwa minat koleksi aset aman (safe haven) masih sangat tebal di tengah ketidakpastian global.

Sinyal Pemangkasan Suku Bunga Masih Jadi Penopang

Para pelaku pasar kini tengah menunggu angka Nonfarm Payrolls dan inflasi CPI sebagai penentu langkah The Fed. Melemahnya belanja konsumen di AS saat ini justru menjadi kabar baik bagi pemegang emas, karena memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga sebesar $2 \times 25$ bps pada tahun ini. Penurunan suku bunga biasanya menjadi pemicu utama kenaikan harga emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset tak berimbal hasil tersebut.

Demam Emas di India Melawan Arus Saham

Sentimen positif datang dari India, di mana para investor mencatatkan rekor pembelian emas melalui ETF sepanjang Januari. Fenomena ini unik karena aliran dana ke emas melampaui investasi di pasar saham, menunjukkan pergeseran preferensi masyarakat ke aset yang lebih stabil di tengah gejolak geopolitik.

Pergerakan Harga di Lantai Bursa:

  • Emas Spot: Turun 1% ke angka 5.013 Dolar AS per ons.
  • Emas Berjangka (April): Berhasil anomali dengan kenaikan 1% ke 5.031 Dolar AS per ons.
  • Perak Spot: Mengalami "darah tinggi" (volatilitas) hingga anjlok 3,3% ke level 80,63 Dolar AS setelah sempat terbang tinggi pada hari sebelumnya.

Meski perak mengalami guncangan hebat akibat arus keluar modal, para analis memperkirakan pasokan fisik yang sangat ketat akan segera memicu pemulihan harga dalam beberapa bulan ke depan.***