JAKARTA - Laju pinjaman luar negeri korporasi swasta di Indonesia masih tertahan di teritori negatif. Di sisi lain, likuiditas asing justru mengalir deras masuk ke instrumen publik yang mendongkrak total utang luar negeri (ULN) nasional menjadi 453,4 miliar dolar AS pada kuartal II 2026.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso merinci bahwa tren kenaikan 4,4 persen secara tahunan ini murni disokong oleh transaksi dari pemerintah dan bank sentral. Data ini dipublikasikan pada Selasa (18/8/2026).

Kinerja Lembaga Keuangan Membaik

Posisi pinjaman asing milik swasta tercatat sebesar 194,6 miliar dolar AS, turun 0,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka penyusutan ini sebenarnya merupakan sinyal pemulihan jika dibandingkan dengan kuartal I 2026 yang anjlok 1,3 persen.

Perbaikan laju ini dimotori oleh lembaga keuangan yang menekan kontraksi pinjaman mereka dari 6,3 persen menjadi hanya 3,4 persen. Empat sektor utama yakni industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan masih menjadi penguasa pangsa pasar hingga 79,4 persen.

"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7 persen terhadap total ULN swasta," rincinya.

Manuver Pro-Pasar Bank Sentral

Sementara korporasi menahan diri, aliran modal justru mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Operasi pasar terbuka ini sukses menarik minat non-residen sekaligus berfungsi sebagai jangkar penjaga stabilitas kurs rupiah di pasaran global.

Tingginya minat atas surat berharga publik menjaga rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) di level sehat 30,6 persen. Bank sentral bersama otoritas fiskal terus memperketat koordinasi guna menjamin kelancaran roda pembiayaan pembangunan nasional.***