JAKARTA - Angkatan Darat Republik Islam Iran menerbitkan skema insentif bernilai US$30.000 atau ekuivalen dengan Rp534 juta untuk penangkapan maupun pelumpuhan personel militer Amerika Serikat. Sayembara terbuka ini memuat ketentuan alokasi hadiah dua kali lipat bagi partisipan perempuan.

Alokasi Dana untuk Partisipan

Pembuatan kebijakan hadiah ini diklaim sebagai respons otoritas militer atas antusiasme keterlibatan publik. Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami merinci bahwa alokasi dana tersebut setara dengan 5 miliar toman dalam perhitungan mata uang informal.

"Siapa pun yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer Amerika yang menyerang akan menerima hadiah setara dengan $30.000 atau 5 miliar toman dari Angkatan Darat Republik Islam Iran," jelas Hatami, Senin (17/8/2026).

"Para perempuan Iran yang berani melakukan tindakan seperti itu akan menerima hadiah dua kali lipat," ungkapnya.

Peringatan Wilayah Perairan

Bersamaan dengan perilisan informasi kompensasi tersebut, petinggi militer Iran ini mendesak Amerika Serikat untuk segera keluar dari kawasan Timur Tengah. Hatami menekankan bahwa akses logistik maupun militer Amerika Serikat telah diblokade.

"Mereka tidak lagi memiliki izin untuk memasuki Teluk Arab, Teluk Oman, atau Selat Hormuz," urainya.

Kondisi keamanan di lapangan saat ini diwarnai oleh kontak senjata yang terjadi secara acak, terutama di kawasan Iran selatan dan sekitar perairan Selat Hormuz.

Riwayat Kebuntuan Perundingan

Puncak eskalasi antara kedua negara berawal dari insiden serangan tanggal 28 Februari. Satu bulan pascainsiden tersebut, militer Amerika Serikat menjalankan operasi masif untuk mencari pilot F-15 yang jatuh, mengerahkan ratusan armada pesawat udara dan pasukan infanteri.

Manuver logistik ini berakibat pada kerugian armada, di mana Amerika Serikat meninggalkan dan menghancurkan pesawat angkut C-130, serta menerima kerusakan pada pesawat A-10 akibat perlawanan Iran. Pilot F-15 yang menjadi target operasi berhasil diselamatkan lebih dulu dalam misi helikopter terpisah beberapa hari sebelumnya.

Meski perselisihan sempat mereda lewat gencatan senjata pada bulan April, perundingan diplomatik yang dijadwalkan pada bulan Juni menemui kebuntuan sehingga status konflik kembali terbuka hingga saat ini.***