'Niyalah', ritual selamatan kematian tentang keberangusan hutan Riau di tengah degradasi dahsyat. Keseimbangan keanekaragaman hayati kian terancam, kesehatan jutaan manusia 'terbelenggu' dalam mimpi buruk tentang keserakahan kelompok manusia tak bertanggung jawab.

Pesawat tempur andalan Tentara Nasional Indonesia (TNI) jenis Hawk 100/200 menjalani misi khusus, mengudara dan merekam peristiwa tragis tentang degradasi hutan di daratan Sumatera.Alat utama sistem senjata (alutsista) itu menerobos pekatnya asap yang mengepul dari kawasan lahan gambut. Ketika itu 28 Februari 2014, tragedi bencana kabut asap dampak dari peristiwa kebakaran lahan di Provinsi Riau kembali terjadi.Beberapa pesawat tempur di Pangkalan Udara TNI Roesmin Nurjadin Pekanbaru turut dikerahkan untuk merekam keganasan kelompok manusia tak bertanggung jawab. Penyebab lebih 37 ribu jiwa menderita, seorang diantaranya bahkan meninggal dunia.Alat utama yang juga masuk dalam sistem pertahanan negara ini merekam jejak-jejak kejahatan lingkungan misterius. Mereka yang telah membakar lebih 11 ribu hektare lahan semak belukar, hutan, dan bahkan akibatnya, kobaran api meramabat hingga turut menghanguskan perkampungan di suatu kawasan pada Kabupaten Bengkalis.Lensa alutsista itu merekam pemandangan memilukan dari udara, sekitar 5.000 kaki di atas permukaan laut. Kepekatan asap bergumpal seperti awan panas Sinabung yang meletus pada akhir Januari 2014. "Niyahah", seakan sekelompok tak bertanggung jawab tengah menggelar ritual selamatan kematian di tengah-tengah penderitaan jutaan manusia penghuni daerah penghasil minyak.Foto-foto hasil rekaman lensa alutsista itu dipajang dalam suatu ruangan yang menjadi pusat koordinasi bagi Tim Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau di Lanud TNI Roesmin Nurjadin Pekanbaru."Dana Rp300 miliar disiapkan untuk mengatasi persoalan asap tahun ini," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif dalam jumpa pers usai rapat koordinasi di Pekanbaru, Kamis (6/3/2014).Ini merupakan yang kesekian kalinya Syamsul Maarif berkunjung ke Riau dalam misi menuntaskan persoalan asap dan kebakaran lahan. Posko Penanggulangan Bencana Kabut Asap di daerah ini juga masih sama seperti tahun sebelumnya.Hanya ada pergantian foto-foto peristiwa kebakaran lahan dengan visual yang berbeda, diklaim peristiwa ini lebih parah dibanding tahun lalu, meski bancana ketika itu sempat menganggu aktivitas mesyarakat di negara tetangga.Satgas DaratTidak kalah, Satgas Darat yang merupakan bagian dari Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau juga merekam peristiwa dramatis, sekelompok pria tegap tengah menyapu api di lahan gambut dengan kaki yang hanya berbalut sepatu kulit bertapak tebal.Sementara para lelaki berbaju bertuliskan "Manggala Agni" terpotret sibuk menyemprotkan air menggunakan selang berdiameter besar di atas lahan yang masih menghasilkan asap.Sementara foto lainnya masih dari Satgas Darat, tampak seperti lukisan "neraka", kobaran api menutup langit dengan "coretan" api yang begitu membara, melenyapkan warna khas langit yang senantiasa biru laut.Kobaran api dalam foto tersebut seakan hendak menerjang pepohonan rindang dan sebuah gubuk di tengah hutan perawan pada kawasan konservasi global dengan penamaan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu.Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu (CG-GSK-BB) merupakan salah satu dari tujuh cagar biosfer yang ada di Indonesia.        Terletak di dua wilayah pemerintahan yaitu Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak di Propinsi Riau. CG-GSK-BB Riau ditetapkan dalam sidang "21st Session of the International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Proggramme UNESCO" di Jeju, Korea Selatan pada 26 Mei 2009. Kawasan ini adalah satu dari 22 lokasi yang diusulkan 17 negara yang diterima sebagai cagar biosfer pada tahun tersebut, ini merupakan satu-satunya konsep kawasan konservasi dan budidaya lingkungan yang diakui secara internasional. Dengan demikian, sepantasnyalah pengawasan dan pengembangannya menjadi perhatian seluruh dunia atas kawasan tersebut. Terlebih CG-GSK-BB menjadi khas karena hutan rawa gambut yang tiada duanya.Namun kondisinya kini mulai kritis, kepunahan hutan perawan itu terus tergerus dengan ketamakan manusia. Terlebih dalam peristiwa kebakaran kali ini, tercatat sudah lebih 2.000 hektare kawasan cagar biosfer telah hangus."Sekarang ada 2.000 orang warga asal Sumatera Utara yang membuka kawasan hutan di cagar biosfer di Riau. Mereka merambah kawasan hutan kemudian lahannya dibakar untuk perkebunan sawit," kata Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan.Menhut ketika itu, Rabu (5/3), berkunjung ke Posko Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Itu juga bukan yang pertama dilakukannya, tahun lalu Zulkifli Hasan juga telah berkunjung ke posko yang sama.Komandan Satgas Tanggap Darurat Riau Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto menduga para perambah sudah cukup lama berada di dalam cagar biosfer. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya tumpukan kayu hasil pembalakan liar dan gubuk-gubuk sudah banyak berdiri."Saya dapat laporan, perambah di dalam sana juga ada yang sudah berkebun cabai," kata Brigjen Prihadi Agus yang juga Danrem 031/WB.Hutan TerbakarJejak rekam alutsista terbukti hanya sample potret tragis tentang kisah kesedihan penuh kemalangan, hutan perawan yang juga habitat bagi hewan-hewan langka terancam punah. Satgas menyatakan hingga Kamis (6/3), sebanyak 13.009 hektare lahan di Provinsi Riau telah hangus terbakar pada kurun enam pekan terakhir.Data operasi lapangan Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau mencatat, ada sekitar 10.618 hektare lahan hangus sudah dalam kondisi padam, itu dari 13.009 hektare yang terbakar, namun sebagian masih berasap.Sementara itu hasil pemantauan Satgas Darat, masih ditemukan 24 titik kebakaran lahan yang menghasilkan asap tebal sekitar 1.235 hektare dan asap tipis seluas 1.156 hektare.Satgas mencatat, luas lahan terbakar terbanyak berada di Kabupaten Bengkalis yakni mencapai 5.722 hektare, kemudian di Meranti seluas 4.527 hektare.Untuk di Kabupaten Siak luas lahan terbakar ada sebanyak 1.082 hektare, Dumai (769 hektare), Indragiri Hulu (329), dan Indragiri Hilir juga seluar 329 hektare. Kemudian di Kabupaten Kampar ada seluar 159 hektare lahan terbakar, Pelalawan (155 hektare), dan Rokan Hilir (128).Jumlah tersebut bisa terus bertambah mengingat peristiwa kebakaran lahan masih terus berlangsung. Tim satgas masih mengupayakan pemadaman dengan mengerahkan kekuatan penuh.Mulai dari teknik pemadaman manual di darat, bom air (water bombing) di udara, hingga penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sampai saat ini masih terus dilakukan. Alutsista juga masih akan memotret peristiwa tragis tentang tragedi kebakaran hutan Riau yang menyebabkan lebih 37 ribu jiwa kini menderita akibat serangan penyakit dampak polusi asap. (fzr/ant)