Ray Bradbury,  "Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, bikin saja orang-orangnya berhenti membaca".

Kita harus menyadari bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Kemerdekaan adalah fondasi awal perjuangan generasi muda saat ini. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini haruslah kita syukuri, kemudian kita rawat dan kita isi. Salah satu cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan adalah dengan memperbanyak bacaan. Kita tentu tidak ingin, semangat para pejuang bangsa untuk senantiasa merawat dan mengisi kemerdekaan terkoyak hanya karena rendahnya  semangat literasi para generasi mudanya. Maka apa makna“Membaca” bagi kita? Maknanya adalah semakin banyak kita membaca, maka semakin besar upaya merawat gagasan untuk merubah keadaan, jika keadaan mengalami ketidakadilan dan ketimpangan maka bacalah!

Al-alaq (segumpal darah) adalah wahyu pertama Tuhan bagi umat manusia, awal kalimat dari perintah ini adalah tentang membaca. Bukannya tidak bermakna kalau ayat suci yang pertama turun dimulai dengan kata Iqra’, “Bacalah!”(lihat surat 96). Dan ayat selanjutnya juga menekankan pencarian ‘ilm (pengetahuan). Ayat-ayat itu selengkapnya adalah“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah yang paling mulia! Yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” Impikasi dari perintah ini adalah manusia harus belajar dan menguasai ilmu pengetahuan yang diawali dengan tindakan membaca.

Menurut studi yang dilakukan oleh PISA (Program for International Student Assesment) pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara berdasarkan tingkat literasinya. Sedangkan studi lain yang dilakukan oleh WMLN (Words Most Literate Nation ) pada tahun 2016, Indonesia masih berada pada posisi terendah dari negara-negara lain, yaitu pada peringkat 60 dari 61 negara. Dan Indeks baca orang Indonesia menurut UNESCO (2012) hanya 0,001 (%), itu artinya diantara 1000 orang yang betul-betul membaca buku hanya 1 orang. Bahkan ada riset yang menyatakan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu membaca 27 halaman dalam setahun, tentu itu fenomena yang sangat mengerikan dan akan meberi efek bagi Indonesia kedepan. Semangat kemerdekaan hanya akan menjadi selogan belaka. Karena apa yang kita lakukan hari ini adalah cerminan untuk masa yang akan datang.

Memang ada kesan secara historis, bahwa dahulu tempat dimana wahyu ini diturunkan terdapat masyarakat  yang tidak mengenal tradisi pena ,atau bisa disebut baca-tulis itu sangat jarang. Oleh karena itu al-qur’an menekankan penggunaan pena, atau budaya baca-tulis, karena dengan pena ilmu pengetahuan itu mampu ditransformasikan dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu individu ke individu yang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya dan dari suatu abad ke abad selanjutnya. Tuhan yang maha besar itu dengan segala kebesarannya mewahyukan perintah yang sangat radikal (mendasar), perintah yang akhir-akhir ini  banyak dilupakan, perintah yang menggungah dan mengubah, perintah yang menantang sekaligus tidak gampang. Sanking tidak gampangnya banyak orang-orang Indonesia rata-rata hanya mampu membaca 2-4 jam/hari, padahal standar dari UNESCO adalah 4-6 jam/hari, Sedangkan untuk masyarakat negara-negara maju rata-rata untuk mebaca buku menghabiskan waktu 6-8 jam/hari.

Dan kini, untuk kesekian kalinya, Indonesia telah memasuki momentum paling bersejarah. Tahun ini, Indonesia telah genap memasuki Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan yang ke-75. Di usiannya yang semakin matang ini, Indonesia haruslah berbenah dari belenggu berbagai problem bangsa yang dari waktu ke waktu semakin pelik dan kompleks. Terurtama di bidang literasi.

Coba Kita lihat realitas yang terjadi akhir-akhir ini. Generasi kita adalah generasi yang kaya sekali dengan sumber informasi dan teknologi tetapi tidak bisa dipungkiri lama kelamaan kita juga mengalami degradasi fikiran dan miskin sekali akan bacaan. Kita seolah-olah menjadi generasi yang bingung menentukan kemana arah pergerakan kaum muda untuk menghadapi berbagai dinamika dan konflik sosial yang terjadi, karena kita terlalu sibuk dengan media sosial sehingga mengabaikan fakta sosial. Teknologi hadir sebagai sebuah inovasi untuk meningkatkan interaksi dan budaya literasi, tetapi realitasnya semakin mengisolasikan ruang diskusi, ruang baca dan dehumanisasi.

Keadaan ini tentu tidak hanya mampu diubah secara individual tapi tindakan yang berimplikasi sosial yang nyata bersekala besar. Maka kembali kepada perintah pertama Tuhan adalah upaya radikal, mengakar dan mampu mengubah realitas hari ini secara mendasar dan itulah cara terbaik untuk mengisi semangat kemerdekaan dengan selalu memperbanyak bacaan. Semoga. Merdeka!


Tentang Penulis: Mahadir Mohammed merupakan putra Riau yang menamatkan pendidikannya di Instiper Yogyakarta dan saat ini tengah menikmati kegiatannya sebagai penggiat literasi baca di Yogyakarta.