NAOMI Novik, melalui A Deadly Education, tidak sedang menulis kisah fantasi remaja tentang sihir. Ia sedang menyusun alegori gelap tentang pendidikan modern sebuah sistem yang mengklaim netralitas, tetapi diam-diam memproduksi ketimpangan. Dalam tradisi Dark Academia, Novik menolak romantisasi dunia intelektual dan justru menelanjangi kekerasan struktural yang bersembunyi di balik jargon meritokrasi. Scholomance, sekolah sihir yang menjadi latar novel ini, berdiri tanpa guru dan tanpa perlindungan. Para murid dibiarkan belajar sendiri sambil menghadapi ancaman makhluk mematikan. Yang bertahan bukan yang paling cerdas, melainkan yang paling siap secara struktural: mereka yang punya jaringan, aliansi, dan warisan kekuatan. Di sinilah Novik menyampaikan kritik paling tajamnya: pendidikan bukan sekadar soal kecerdasan individual, melainkan soal distribusi risiko dan perlindungan.
Scholomance kerap digambarkan sebagai institusi netral. Ia tidak memihak, tidak menghukum, tidak melindungi. Namun justru di situlah kekerasannya bekerja. Dengan menghapus peran guru, Scholomance melepaskan tanggung jawab moralnya sebagai lembaga pendidikan. Novik seolah ingin mengatakan bahwa institusi yang mengklaim netral sering kali justru paling berbahaya. Ketika sistem tidak secara aktif melindungi yang rentan, ia otomatis menguntungkan yang sudah kuat. Netralitas semacam ini bukan keadilan, melainkan pengabaian yang dilembagakan. Kritik ini beresonansi dengan pendidikan modern yang kerap berlindung di balik prosedur. Aturan dijalankan, evaluasi dilakukan, tetapi keselamatan psikologis dan sosial peserta didik dibiarkan menjadi urusan individu. Dalam dunia Scholomance, semua murid menghadapi ujian yang sama. Namun peluang mereka tidak setara. Murid dari keluarga elit memiliki perlindungan tambahan mantra, artefak, dan jaringan aliansi. Yang lain harus menghadapi bahaya sendirian. Novik membongkar ilusi meritokrasi: sistem yang tampak adil di permukaan, tetapi timpang di dalam. Prestasi tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu ditopang modal sosial dan kultural. Ketika satu murid jatuh, sistem tidak bertanya “apa yang kurang dari institusi ini?”, melainkan “mengapa ia gagal bertahan?” Logika inilah yang menjadikan pendidikan sebagai arena seleksi alam, bukan ruang pembelajaran.
Berbeda dari narasi pendidikan klasik yang memuliakan pengetahuan sebagai pencerahan, A Deadly Education menampilkan pengetahuan sebagai alat ambivalen. Mantra dan teori sihir tidak selalu membawa kebijaksanaan; sering kali justru memperbesar jarak antara yang kuat dan yang lemah. Novik menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat berfungsi sebagai instrumen kekuasaan, bukan pembebasan. Mereka yang memiliki akses lebih awal dan lebih lengkap akan selalu unggul. Pendidikan, dalam logika ini, tidak mengoreksi ketimpangan, tetapi mereproduksinya. Dalam tradisi Dark Academia, inilah kritik paling penting: intelektualitas tanpa etika hanya akan melahirkan elit baru, bukan masyarakat yang lebih adil. Salah satu aspek paling mengganggu dari Scholomance adalah bagaimana bahaya dianggap wajar. Kematian dan kegagalan murid bukan skandal, melainkan statistik. Penderitaan dianggap bagian dari proses pendewasaan. Novik menyentil budaya pendidikan yang menormalisasi penderitaan sebagai bukti ketangguhan. Dalam sistem seperti ini, kelelahan, kecemasan, dan trauma dipandang sebagai harga yang harus dibayar demi keunggulan dan keberhasilan yang akan di capai. Narasi semacam ini berbahaya karena memindahkan tanggung jawab dari institusi ke individu. Pendidikan berubah dari ruang pembentukan manusia menjadi mesin penyaringan.
A Deadly Education sering dikelompokkan dalam genre Dark Academia, yang kerap diasosiasikan dengan estetika intelektual yang muram dan romantis. Namun Novik justru membalik konvensi itu. Ia menggunakan kegelapan bukan untuk memikat, melainkan untuk mengungkap kebusukan sistemik. Dalam novel ini, tidak ada nostalgia perpustakaan megah atau diskusi filsafat yang memesona. Yang ada adalah kecemasan, kegelisahan, strategi bertahan hidup, dan relasi kuasa yang timpang. Pendidikan tampil sebagai medan konflik, bukan ruang pencerahan bagi murid atau siswa.
A Deadly Education pada akhirnya bukan sekadar kisah distopia, melainkan ajakan reflektif: pendidikan seperti apa yang ingin kita bangun? Bagi Indonesia, jawabannya tidak cukup dengan kebijakan teknokratis. Reformasi pendidikan tinggi harus menyentuh dimensi kultural dan etik: Kampus sebagai komunitas belajar, bukan pabrik gelar; Dosen sebagai mentor intelektual, bukan sekadar evaluator; Mahasiswa sebagai subjek berpikir, bukan hanya objek akreditasi. Pendidikan tinggi tidak boleh menjadi Scholomance tempat yang hanya menyisakan mereka yang paling kuat, paling licik, atau paling beruntung. Ia harus menjadi ruang di mana pengetahuan memanusiakan, bukan mematikan. Dalam dunia yang semakin kompetitif dan tidak pasti, tantangan terbesar pendidikan bukan mencetak yang paling unggul, melainkan menjaga agar proses belajar tetap manusiawi. Dan mungkin, di situlah pelajaran paling penting dari A Deadly Education bagi kampus-kampus Indonesia hari ini.
Note: Tulisan ini disadur dari A Deadly Education (Novel) oleh Naomi Novik
Prof. Dr. Eng. Ir. Muslim adalah Guru Besar Prodi Teknik Perminyakan Fakultas Teknik – Universitas Islam Riau


