JAKARTA – Sebuah tragedi kemanusiaan yang menyesakkan dada pecah di pelosok Nusa Tenggara Timur. YBS, bocah 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar, ditemukan tak bernyawa di dahan pohon cengkeh dekat pondok neneknya, Kamis (29/1/2026). Ia memilih pergi selamanya setelah permintaannya akan buku tulis dan pena ditolak sang ibu akibat ketiadaan biaya.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort mengonfirmasi penemuan sepucuk surat "pamitan" yang ditulis tangan oleh korban sebelum kejadian. Dalam surat bertajuk Kertas Tii Mama tersebut, YBS meminta ibunya, MGT (47), untuk merelakan kepergiannya dan berhenti menangisi nasibnya.

"Penyidik menemukan kecocokan tulisan tangan korban dengan buku tulis sekolahnya. Isinya meminta sang ibu untuk tidak lagi mencari atau merindukannya," ujar Benediktus, Senin (2/2/2026).

MGT mengungkapkan, malam sebelum kejadian, sang anak sempat meminta uang untuk perlengkapan sekolah. Namun, himpitan ekonomi yang mencekik memaksa sang ibu memberikan jawaban pahit bahwa mereka sedang tidak memiliki uang. YBS, yang dikenal warga sebagai anak cerdas dan periang, akhirnya ditemukan tergantung oleh seorang saksi mata, Kornelis Dopo (59), sekitar pukul 11.00 Wita.

Tragedi ini memicu kemarahan publik sekaligus kritik tajam dari parlemen. Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief menilai kasus ini sebagai tamparan keras bagi kementerian terkait. Ia mempertanyakan besarnya alokasi anggaran pendidikan di APBN yang seolah tidak menyentuh kebutuhan paling dasar di wilayah pelosok.

"Kasus ini adalah alarm bahwa ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Negara harus hadir, anggaran pendidikan itu besar, harusnya buku dan alat tulis tidak menjadi alasan anak untuk putus asa," tegas Habib Syarief, Selasa (3/2/2026).

YBS merupakan yatim sejak dalam kandungan dan hidup dengan keterbatasan kasih sayang orang tua di pondok neneknya. Di tengah kampanye besar-besaran pemerintah mengenai transformasi pendidikan, kepergian YBS menjadi bukti nyata bahwa kesenjangan sosial masih mampu merenggut masa depan anak bangsa secara tragis.

Investigasi kini tengah didorong untuk memastikan apakah bantuan pendidikan selama ini tepat sasaran atau hanya menjadi angka di atas kertas, sementara di lapangan, seorang anak harus bertaruh nyawa demi selembar buku tulis.***