PEKANBARU - Halal Bi Halal bagi paguyuban Mitro Satoto bukan hanya sekedar saling memberi dan meminta ma'af namun juga sebagai sarana membangun persaudaraan yang lebih erat dengan saling menopang dalam arti ringan sama dijinjing,berat sama dipikul,dalam istilah bahasa jawa enteng podo disonggo,abot podo dipikul.
Demikian dikemukakan ketua Paguyuban Jawa Mitro Satoto Kang Turoichan Asyari pada acara halal bihalal Paguyuban Mitro Satoto dengan Forum Komunikasi Seni dan Budaya di Gedung Permanen Mitro Satoto jalan Fajar Ujung Payung Sekaki Pekanbaru.
Lebih lanjut Kang Turoichan mengatakan Halal bihalal juga sebagai sarana memberi dukungan terhadap warga masyarakat Jawa yang mempunyai potensi dalam berbagai keahlian agar mereka mampu memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat. “Dalam istilah jawa Empan Papan Empan Panggonan, caranya dengan ngangkat derajat ngrangkul sedulur,” ujar Kang Turoichan.
Berkaitan dengan makna dan pentingnya silaturahmi membangun kebersamaan dalam bingkai peseduluran, Bagus Santoso yang menjabat Anggota DPRD Provinsi Riau dari tokoh muda Jawa Riau, mendorong agar semua paguyuban dan organisasi yang berbasis kemasyarakatan, sosial dan budaya saling menjaga hubungan dengan cara tukar informasi dan memelihara keunggulan potensi yang dimiliki masing masing paguyuban.
Ini menjadi langkah jitu . “Namanya paguyuban jelas untuk sarana sosial dan budaya. Jadi menjadi pengurus paguyuban jangan menghitung untung rugi , karena jelas bukan perusahaan untuk bisnis,” kata Bagus.
Diakhir acara yang dihadiri sesepuh Jawa Riau Suradi Paijan disosialisasikan sejumlah bacaleg Pemilu 2019 untuk DPR RI, DPRD Provinsi/ DPRD Kota dari keluarga besar Mitro Satoto. ***


