RUPAT UTARA - Pantai Rupat berhadap-hadapan dengan daratan negeri Malayu. Jika beruntung, pada saat-saat tertentu warga Rupat bisa menatap perbukitan bumi Malaysia dengan mata telanjang.
Jarak yang memisahkan mereka tak terlalu panjang. Tidak lebih dari 1,5 jam menggunakan perahu motor pompong, warga Rupat sudah tiba di Malaysia. Karena kedekatan itu pula, mereka seperti saudara.
Bahasa hampir sama, kesukaan juga tak jauh beda. Untuk sekadar membeli daging ayam, sayur-mayur, atau sarden sekaleng, warga Rupat bisa mendapatkan dari Malaysia.
"Dulu Malaysia itu jadi pilihan utama dari pada kami harus ke Dumai. Sebab, ke Malaysia lebih dekat dari pada ke Dumai, kalau lah ke Dumai 2,5 jam, ke Malaysia hanya 1,5 jam saja sudah tiba. Makanya kalau kata masyarakat, untuk beli sarden sekaleng saja orang Rupat lebih mau ke Malaysia," kata Yanto, masyarakat Rupat Utara kepada GoRiau.com, Jumat (15/7/2016) jelang persiapan acara zapin api di tepi Pantai Pesona Teluk Rhu, Rupat Utara.
Bahkan untuk rujukan berobat, membeli keperluan pesta, atau keperluan jenis apapun, Malaysia ternyata lebih praktis dan ekonomis. Maka tak heran kalau sampai saat ini mata uang Ringgit masih berlaku untuk urusan jual beli.
"Memang tidak banyak lagi yang menggunakan mata uang ringgit. Kalau dulu benar seperti itu, sekarang ini hanya sebagian kecil saja. Masyarakat Rupat juga banyak yang bekerja di Malaysia dan balik ke Rupat saat Lebaran," ungkap Yanto lagi.
Menariknya lagi, sepeda motor dan beragam produk made in Malaysia masuk ke Rupat tanpa harus melalui proses di bea cukai. Sehingga saat ini di Rupat masih ditemukan sepeda motor dari Malaysia yang biasa digunakan masyarakat untuk ke kebun.***


