PEKANBARU – Pergantian pucuk pimpinan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) tak boleh ikut menghentikan denyut tradisi Pacu Jalur. Bagi masyarakat Kuansing, Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan tahunan untuk memperebutkan gelar juara, melainkan warisan budaya yang telah hidup dan mengakar dari generasi ke generasi.
Anggota DPRD Riau Dapil Indragiri Hulu-Kuansing, Zulhendri, menegaskan tradisi tersebut harus tetap berjalan siapapun yang memimpin daerah.
Pernyataan itu disampaikannya menyikapi pergantian kepemimpinan dari Bupati Kuansing nonaktif Suhardiman Amby kepada Plt Bupati Muklisin.
“Budaya ini harus tetap jalan, siapapun kepala daerahnya. Ini kan proses saja, tidak ada masalah,” tegas Zulhendri, Senin (10/8/2026).
Menurut politisi Gerindra itu, pergantian kepala daerah merupakan bagian dari dinamika pemerintahan. Namun, tradisi masyarakat tidak boleh ikut terseret dalam pergantian tersebut.
Justru, kata dia, Pacu Jalur harus menjadi salah satu agenda yang terus dijaga kesinambungannya. Sebab, di balik panjangnya jalur yang berpacu di Sungai Kuantan, terdapat sejarah, gotong royong, kebanggaan kampung, hingga identitas masyarakat Kuansing.
Zulhendri mengakui persiapan Pacu Jalur tahun ini menghadapi tantangan, terutama dari sisi keterbatasan anggaran.
Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi semangat pelaksanaan.
Panitia, katanya, tetap bekerja maksimal dengan sumber daya yang tersedia.
“Tetap melaksanakan semaksimal mungkin. Saya yakin dengan anggaran yang sangat terbatas, tetapi persiapan-persiapan seperti yang dilakukan sebelumnya tetap kita lakukan,” ujarnya.
Ia bahkan berharap kemeriahan Pacu Jalur 2026 tidak kalah dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.
“Kalau bisa jangan kurang dari tahun lalu. Malah kalau bisa lebih meriah,” katanya.
Harapan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Sebab, Pacu Jalur kini bukan hanya menjadi pesta masyarakat Kuansing, tetapi telah berkembang menjadi magnet wisata yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Di tengah persiapan pesta budaya tersebut, kondisi Sungai Kuantan menjadi perhatian serius.
Memasuki musim kemarau, debit air sungai mengalami penurunan. Padahal, sungai merupakan arena utama tempat jalur-jalur kebanggaan masyarakat bertarung memacu kecepatan.
“Pasti ada tantangan, karena debit air sekarang sangat kecil akibat musim kemarau,” kata Zulhendri.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pengerukan alur sungai mulai dilakukan. Langkah ini diharapkan dapat memperdalam bagian-bagian tertentu sehingga jalur yang digunakan untuk perlombaan tetap memiliki kedalaman dan arus yang memadai.
“Sekarang sudah dilakukan pengerukan. Saya lihat di beberapa informasi, pengerukan dilakukan supaya arus untuk pacu itu lebih dalam,” jelasnya.
Bagi masyarakat Kuansing, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai Kuantan adalah bagian dari denyut kehidupan sekaligus panggung tempat tradisi Pacu Jalur dipertontonkan.
Karena itu, menjaga kondisi sungai sama artinya dengan menjaga keberlangsungan tradisi.
Dengan berbagai persiapan yang dilakukan, masyarakat kini tinggal menunggu hari perlombaan tiba.
Pacu Jalur 2026 diharapkan bukan hanya menjadi tontonan yang meriah, tetapi juga menjadi panggung besar kebudayaan Kuansing yang mampu mengangkat nama Riau di tingkat nasional.
Terlebih, rencana kehadiran Menteri Sosial serta dorongan pengembangan kawasan waterfront city menambah harapan agar Pacu Jalur tahun ini memiliki gaung yang lebih besar.
Jika dikelola dengan baik, Pacu Jalur bukan hanya mampu mendatangkan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Pedagang, pelaku UMKM, penginapan, transportasi hingga sektor jasa lainnya dapat ikut menikmati perputaran ekonomi dari pesta budaya tersebut.
Pada akhirnya, pergantian kepala daerah hanyalah bagian dari perjalanan pemerintahan. Sementara Pacu Jalur adalah perjalanan budaya yang jauh lebih panjang.
Kepala daerah bisa berganti, kebijakan bisa berubah, dan anggaran bisa naik turun. Namun, semangat masyarakat Kuansing untuk menjaga Pacu Jalur harus tetap berpacu.
Sebab, selama masyarakat masih berdiri di tepian Sungai Kuantan meneriakkan dukungan kepada jalurnya, selama itu pula denyut budaya Kuansing akan terus mengalir. ***


