SIAK SRI INDRAPURA, - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam waktu dekat menetapkan Istana Asserayah Hasyimiah atau dikenal dengan sebutan Istana Siak salah satu warisan budaya nasional. Kendati demikian, sejarah kerajaan Melayu yang tersimpan di Istana Siak itu ternyata tidak masuk iven pariwisata Provinsi Riau tahun 2017, yang dikemas dengan "Riau Menyapa Dunia".

Bupati Siak H Syamsuar mengaku kecewa dengan kebijakan Pemprov Riau yang menilai Istana Siak tidak masuk salah satu iven pariwisata. Padahal, istana yang berdiri kokoh di pusat ibukota Kabupaten Siak itu memiliki sejarah yang sangat istimewa bagi masyarakat Melayu. Sebab, dari kerajaan yang didirikan tahun 1889 itulah, sejarah Melayu dimulai.

"Kemaren, waktu pulang dari Bandung, di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru saya lihat spanduk besar bertulis "Riau Menyapa Dunia", ada beberapa foto yang dipajang, tapi sayangnya tak ada Istana Siak. Kalau ini tak dipromosikan ke mancanegara, tentu orang luar tak tahu Istana Siak yang merupakan sejarah orang Melayu di Riau ini," jelasnya kepada GoRiau.com, Jumat (27/1/2017) lalu.

"Kita sudah berupaya untuk mempromosikan Istana Siak ini bisa dikenal dunia, tentunya usaha kita ini kurang maksimal jika tak didukung penuh oleh Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat," ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Siak Hendrisan menambahkan, pihaknya sudah berupaya berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Riau agar memasukkan Istana Siak menjadi bagian dari iven pariwisata "Riau Menyapa Dunia". Namun, Dinas Pariwisata Riau menyatakan, tujuan wisata yang masuk kalender Riau itu berupa iven budaya dan olahraga yang dapat menggaet turis lokal maupun mancanegara datang ke Riau.

"Kalau untuk Siak yang masuk itu hanya Tour de Siak, kemudian Festival Bekudo Bono di Pelalawan, Pacu Jalur di Kuansing, Bakar Tongkang di Rohil, Gema Muharram di Inhil dan Riau Marathon di Pekanbaru," ujar Hendrisan.

Istana Siak yang juga dikenal dengan sebutan Istana Matahari Timur merupakan peninggalan Kerajaan Siak Sri Inderapura, berdiri kokoh dijantung Kota Siak menghadap ke Sungai Siak dengan jarak sekitar 150 meter.

Bangunan dua lantai ini, dihubungkan dua tangga putar berbahan besi tempa dengan 36 anak tangga buatan Belanda. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruang, diantaranya ruang pertemuan, ruang makan, dan ruang tamu. Sedangkan di lantai atas ada enam ruang, empat diantaranya kamar tidur.

Sejarahnya, istana ini dibangun Tengku Syarif Hasyim yang jadi Sultan Siak XI dengan gelar Sultan Assayid Asysyarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin yang berkuasa tahun 1889-1908. Istana mulai dibangun tahun 1889 dan rampung 1893. Luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi di tengah lahan seluas 32.000 meter persegi, dengan ciri khas Melayu, Eropa, India, dan Timur Tengah. Arsiteknya didatangkan Sultan dari Jerman. Kini, nama Sultan Syarif Kasim diabadikan masyarakat Riau sebagai nama bandar udara di Kota Pekanbaru. *** #SIAK