TELUKKUANTAN - Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau sepertinya gagal dalam memaksimalkan penerimaan daerah dari pelaksanaan iven pacu jalur. Padahal, festival pacu jalur sangat berpotensi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Mulai dari sektor retribusi lapak, parkir, reklame hingga tribun komersil dan masih banyak sumber potensial lainnya. Jika dioptimalkan, tentu dapat menambah APBD Kuansing yang setiap tahun cendrung berkurang.

Menurut Wakil Bupati Kuansing H. Halim yang juga Ketua Umum Festival Pacu Jalur 2018, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp2,5 miliar. Setelah dilakukan evaluasi, maka biaya dipangkas menjadi Rp2 miliar.

"Dari Rp2 miliar tersebut masih ada sisa saldo sekitar Rp7 juta. Ada sisa karena kita tidak menuruti semua keinginan," ujar Halim kepada GoRiau.com, Selasa (4/9/2018) siang di Telukkuantan.

Ads
Dengan anggaran Rp2 miliar, berapa yang diterima Kuansing dari pacu jalur? Menjawab hal itu, Halim mengaku tidak tahu pasti. Ia meminta agar hal itu ditanyakan kepada Sekda dan bendahara pacu jalur.

Secara terpisah, Sekda Dianto Mampanini juga tidak mengetahui berapa rupiah yang masuk ke daerah. "Bapak tidak tahu, coba hubungi Pak Wariman," ujar Dianto.

Sementara, Wariman DW yang dihubungi melalui selulernya juga tidak mengetahui secara pasti penerimaan daerah dari pacu jalur.

"Kalau penerimaan daerah, itu yang lebih tahu Mulyadi, kan dia kepala Dispenda," ujar Wariman.

Hingga saat berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dispenda Kuansing terkait penerimaan daerah dari iven pacu jalur.

Untuk diketahui, harga lapak di arena pacu jalur selama iven pacu jalur beragam. Mulai dari Rp500 ribu sampai Rp750 ribu per meter. Sedangkan harga parkir roda dua mulai Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Untuk roda empat, tarif parkir mencapai Rp50 ribu.

Tarif tribun komersil pada hari pertama hingga ketiga Rp50 ribu. Namun, pada hari keempat, tarif tribun menjadi Rp80 ribu per orang. ***