YOGYAKARTA – Industri homestay diberbagai destinasi wisata tanah air  makin berkembang bagaikan cendawan tumbuh, seiring membaiknya kondisi perekonomian di dalam negeri dan negara lainnya di dunia. Hal ini membawa dampak signifikan terhadap Asosiasi Homestay Sawahlunto yang tengah membangun kepercayaan terhadap penikmat perjalanan wisata yang menginap di kota wisata tambang bersejarah ini.

Meski belum punya pengalaman mumpuni dibidang pemasaran dan manajemen, asosiasi yang diketuai Hj.Kamsri Benti ini memberanikan diri membawa sejumlah angggotanya, tak luput Ny.Yeni Halil Ali Yusuf, istri wako Sawahlunto dan dua staf Dinas Pariwisata turut serta menimba ilmu ke berbagai desa wisata dan homestay yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sekitar 37 pemilik homestay tertarik melihat dari dekat pengelolaan homestay di Dusun Wisata "lereng merapi" Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Kemudian rombongan juga melihat langsung laju pertumbuhan homestay di kawasan desa wisata Tembi Sewon Bantul, Jalan Parangteritis KM 8 Bantul, dan homestay Omah Kacebong di Dusun Sendari, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati Selaman. Mereka melakukan studi selama 4 hari, Sabtu hingga Selasa (16-19/4/2016).

Ada yang menggelitik di Pentingsari, Umbulharjo. Dusun yang berjarak sekitar 12,5 km dari puncak Merapi atau sekitar 20 km dari pusat kota Yogyakarta ini terlihat tak ada istimewanya, biasa saja. Masyarakatnya rata-rata adalah petani dan pensiunan. Desa ini hanya dikelilingi hutan kayu, sangat sepi disiang hari dan cukup ramai dimalam hari.

Sepanjang jalan menuju Pentingsari yang terlihat hanya untaian dahan dan ranting pohon sengon yang menjulang kelangit. Jalan dikampung ini tak beraspal, hanya dilapisi beton tumbuk dibangun secara swakelola dan terlihat sangat bersih.

"Inilah potret dusun kami. Tapi jangan heran, meski begini, ternyata diminati kalangan wisatawan domestik dan manca negara untuk melakukan aktifitas outbound, villge tour, cycling, camping, traditional homestay dan family gathering saat liburan tiba. Ibu Menteri Pariwisata Marie Pangestu dan Konselor Amerika pernah tidur di sini" kata Doto Yogantoro, Ketua Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri), bangga.

DEWI PERI mulai dibuka sebagai desa wisata tahun 2008 oleh Doto Yogantoro yang juga sebagai tenaga ahli dan konsultan ekonomi kreatif, inspiratif. Awalnya dia membangun 5 rumah sebagai homestay. Tapi, baru dua tahun berjalan, usaha ini terhenti akibat erupsi gunung merapi 2010. Satu tahun kemudian, Doto mulai bangkit dengan menghimpun 55 rumah warga sebagai homestay.

Kini, peluang yang dibuka Doto Yogantoro berbuah manis. Berkat promosi dan peran media, desa ini semakin terkenal ditanah air serta manca negara. Menurut Doto, tak kurang Rp 2,2 milyar setiap tahun uang dapat dikontribusi dari hasil penjualan paket dan penginapan yang ditawarkan kelompok Dewi Peri itu. Itu semua di dukung tamu yang merasa aman, nyaman, dan tentram berlibur Pentingsari.

"Kontribusi setahun Rp 2,2 milyar, dan rata-rata sebulan Dewi Peri mendapatkaan keuntungan total sekitar Rp 112 juta yang dihimpun dari pengelolaan 55 homestay kelasifikasi A, B dan C yang dipatok dengan sewa inap satu malam dengan kisaran Rp 70-100 ribu per kepala termasuk sarapan dan dua kali makan " sambungnya.

Paket aneh-aneh yang dijual di Desa Wisata Pentingsari terdiri dari lomba ronda malam yang paling diminati turis asing, menyapu jalan, mandi di pincuran air, main di sungai, kesawah, bermain gamelan, bersepeda keliling kampung, jadi andalan paket wisata."Pondokan di tengah sawah-pun mampu kami jual seharga Rp100 ribu" kata Doto lagi.
.
Ketua Asosiasi Homestay Sawahlunto Hj.Kamsri Benti,SE memuji pengelolaan Desa Wisata Pentingsari, sepintas tak menarik, tapi justru terkenal dan sangat diminati kalangan wisatawan dalam memanfaatkan masa liburan baik akhir pekan maupun liburan sekolah.

Kamsri Benti, mengutarakan, keberhasilan Desa Wisata Pentingsari tak terlepas dari strategi pemasaran dan manajemen pengelolaan yang terbuka, kompak, saling mempercayai, serius, inspiratif dan kreatif, merupakan hal pokok yang dapat diadobsi dan bisa dikembangkan di Asosiasi Homestay Sawahlunto.

"Kami ingin belajar dan saling berbagi pengalaman baik pengelolaan dan manajemen strategi pemasaran homestay. Menariknya, pondok jaga padi di sawah, menyapu jalan kampung, pincuran air dan ronda siskamling bisa jadi paket wisata unik. Tentu ada trik dan strategi penjualannya yang patut kami contoh dan adobsi." Ungkap Kamsri Benti biasa dipanggil Uni Ben ini. (Ind)