TELUKKUANTAN - Biasanya, pacu jalur selalu memiliki magnet tersendiri dalam menyedot wisatawan, baik lokal, domestik dan mancanegara. Saking ramainya pengunjung, untuk berjalan kaki saja di arena pacu Tepian Narosa Telukkuantan sangat sulit.

Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan pelaksanaan iven pacu jalur tahun 2016. Kendati peserta mencapai 198 jalur, namun penonton tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

"Dulu, untuk jalan saja kita sangat susah. Apalagi kalau menonton di tangga batu, itu sulit mendapatkan tempat jika kita datang lewat dari jam 12.00 Wib," ujar Yesi, salah seorang warga Kuansing usai menyaksikan pacu jalur di hari kedua, Jumat (26/8/2016) sore.

Penilaian yang sama juga diberikan oleh Ajo, seorang pedagang yang datang dari Sumatera Barat.

"Jualan sepi, Bang. Tak seperti tahun sebelumnya. Pengunjung lebih sedikit," ujar Ajo. Ia mengaku khawatir dengan dagangannya, sebab belum balik modal. "Sementara, sewa lapak cukup mahal."

"Tidak hanya itu, selain sewa lapak, banyak petugas yang ngaku ini itulah," keluh Ajo.

Umar, warga Kuansing lainnya juga mengakui menurunnya pengunjung pacu jalur. Ia berpendapat, berkurangnya pengunjung dikarenakan faktor ekonomi. Apalagi, harga karet dan sawit tidak kunjung naik.

"Jadi, bukan pacu jalurnya yang tak menarik. Tapi, dikarenakan faktor ekonomi," ujar Umar.

Ia menilai, usaha pemerintah sudah cukup untuk mengenalkan pacu jalur ke masyarakat luar. Bahkan, Pemprov Riau sudah launching Riau menyapa dunia.

"Ya, kita akui mungkin untuk saat ini promosi pariwisata yang dilakukan Pemprov Riau belum berhasil. Tapi, ini suatu usaha mereka dan kita harus menghargainya," pungkas Umar.***