"Saya prihatin dengan kondisi kampung halaman yang tak ada perubahan. Kampung yang jauh dari sentuhan pembangunan dan saya bertekad untuk memperjuangkannya," ucap Andi Cahyadi mengungkapkan alasannya terjun ke dunia politik, Senin (1/4/2019) siang di Telukkuantan.

Ya, dialah Andi Cahyadi yang lebih akrab disapa Aheng. Politisi Golkar tersebut sudah dua periode duduk sebagai Anggota DPRD Kuansing.

Pria kelahiran Sungai Pinang 1976 ini awalnya tak pernah bermimpi untuk menjadi wakil rakyat. Namun, karena keprihatinannya terhadap kampung halaman, ia mencoba bertarung.

Jalannya menuju kursi DPRD tak berjalan mulus. Pada tahun 2004, Aheng sudah mencoba peruntungan di Pileg. Sayang, dewi fortuna belum berpihak kepadanya.

Ads
"Waktu itu saya maju dari Partai Patriot. Ketika itu, saya diajak oleh kawan untuk mencoba dunia politik ini," ujar Aheng.

Majunya Aheng dari Patriot ternyata mendapat respon berbeda dari H. Sukarmis yang waktu itu Ketua DPRD Kuansing. Sukarmis tak yakin Aheng bisa mengalahkan suara Golkar di Dapil IV.

"Alhasil, suara saya jauh lebih tinggi dari calon yang diusung Golkar. Suara saya yang paling tinggi di wilayah Lubuk Jambi lama itu. Namun, karena sistem Pileg dengan nomor urut, saya tak duduk," papar Aheng.

Tiga tahun berselang, anggota DPRD Kuansing dari Patriot meninggal dunia. Aheng merupakan calon kuat sebagai PAW. Namun, ia tak mengambilnya. "Tanggung, waktunya tinggal setahun lagi."

"Lagian, Pak Sukarmis meminta saya untuk gabung di Golkar pada Pileg 2009," tambah Aheng.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/10022017/okejpg-5571.jpgAndi Cahyadi bersama Sukarmis.

Benar saja, tahun 2009 tersebut dengan perahu Golkar, Aheng ke gedung parlemen. Bahkan, pada Pileg 2014, masyarakat Kuantan Mudik, Gunung Toar, Hulu Kuantan dan Pucuk Rantau kembali mempercayakan Aheng sebagai wakilnya di legislatif.

"Alhamdulillah, kampung sudah setara dengan daerah lain di Kuansing. Ini berkat dukungan dari seluruh elemen masyarakat," ujar Ketua Fraksi Golkar DPRD Kuansing ini.

Sewaktu SMK Sudah Jadi Buruh Angkut

Masa kecil Aheng lebih banyak dihabiskan di kampung halamannya, Hulu Kuantan. Barulah ketika beranjak remaja, Aheng berpisah dari keluarga.

Ia sekolah di SMKN 1 Telukkuantan, 40 Km dari rumah. Karena itu, ia memilih untuk tinggal di sebuah kost.

Kendati ayahnya, Rais Khatib seorang guru SD, tak membuat Aheng kecil berleha-leha. Sadar gaji ayahnya tak seberapa, membuatnya termotivasi untuk bekerja sampingan.

"Saya tak mau bergantung dengan orangtua. Makanya, setiap sabtu minggu, saya menjadi buruh karet. Jemput karet petani ke kebun, lalu antar ke toke. Itu hal biasa bagi saya," kenang Aheng menceritakan kerja kerasnya ketika masih kecil.

Setelah tamat SMK pada tahun 1997, anak Yulisma ini mendaftar kuliah di Universitas Riau. Hal itu untuk memenuhi keinginan orangtuanya, yang ingin anaknya melanjutkan pendidikan.

"Sebelum daftar kuliah, saya buat kebun. Setelah itu baru daftar, tapi tak pernah masuk-masuk. Ya, gimana mau masuk, saya berada di Dumai," ujar Aheng. Saat itu, ia tak berani menyampaikan kepada orangtua bahwa dirinya tak kuliah.

"Karena kiriman datang terus. Saya jujur kepada orangtua. Ya mereka meminta saya tetap kuliah. Daftar lagi, tapi itu, tak pernah masuk-masuk," ucap Aheng.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/10022017/andicahyad-5570.jpgAndi Cahyadi

Menumpang Truk Batu dari Logas ke Ujung Tanjung

Kendati tidak kuliah, Aheng sebenarnya sudah bekerja di PT Triva, sebuah perusahaan jasa konstruksi.

"Dulu, PT Triva ada di setiap kabupaten kota di Riau. Saya coba lamar di Logas, tapi tak diterima karena sudah penuh. Jadi saya tanya, dimana yang kosong. Dibilang sama orang tu, di Rohil," ujar Aheng.

Mendapat informasi tersebut, Aheng dengan tekad yang membaja berangkat ke Ujung Tanjung, Rohil. Ia menumpang dumptruk pengangkut batu. "Saya duduk di bak yang penuh dengan batu tersebut."

"Di situlah saya menumpang, mulai dari Logas sampai ke Ujung Tanjung tetap di bak belakang," tambahnya.

Sesampainya di Ujung Tanjung, Aheng tak langsung mendapatkan posisi enak. Malahan, dirinya hanya bekerja di kantik.

Suatu malam, Rustam Efendi selaku bos dari PT Triva datang ke Ujung Tanjung. Saat itu, Aheng sedang tertidur pulas di kursi panjang, tepatnya di depan kantin.

"Hei, bangun. Ngapain tidur di sini? Ngapa tak tidur di barak," sapa Rustam kepada Aheng.

"Panas di barak, Pak. Biarlah saya tidur di sini," jawab Aheng. Itulah awal mula dirinya berkenalan dengan bos PT Triva.

Rustam pun menanyakan alasan Aheng yang mau bekerja di perusahaannya. Apalagi hanya sebagai pekerja kantin.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/10022017/andiahengj-5569.jpgAndi Cahyadi

"Saya jawab, desakan hidup, Pak. Makanya saya bekerja. Ia menyatakan jarang orang melayu yang mau bekerja di posisi itu. Ya, pekerjaannya masak, cuci piring dan melayani orang," tutur Aheng.

Tak lama setelah itu, Aheng pun diangkat sebagai asisten mekanik. Ia bekerja di bengkel perusahaan tersebut. "Mandi oli itu juga hal yang biasa bagi saya," katanya sambil tersenyum.

"Gaji saya waktu itu hanya Rp60 ribu per bulan. Maklum, sedang krisis moneter," kata Aheng.

Karena kegigihannya dalam bekerja, Aheng dipindahkan ke bagian lapangan. Ia bertugas mengaduk aspal. "Bertahun-tahun saya mengaduk aspal, banyak jalan yang saya kerjakan."

Barulah pada tahun 2002, Aheng dipanggil bos-nya ke Pekanbaru. Ia pun dipercaya koordinator untuk wilayah Riau.

Karena berperawakan putih dan mata sipit, Rustam memanggil Andi dengan Aheng. Bahkan, ketika ada kegiatan perusahaan, Rustam selalu mengenalkan Andi sebagai Aheng kepada para pemangku kepentingan.

"Ada acara di Kuansing. Nanti dia bilang sama bupati, kalau komunikasi langsung saja sama Aheng. Jadi, orang tak tahu nama saya Andi, tapi tahunya Aheng," ujarnya.

Terjun ke Dunia Politik Harus Kehilangan Pekerjaan

Pada tahun 2004, Aheng mulai dilirik oleh partai politik untuk calon legislatif di Kuansing. Kesempatan itu, tak ia sia-siakan.

"Diajak kawan untuk terjun ke dunia politik. Padahal, saya mendapat larangan keras dari atasan. Hanya ada dua pilihan, dunia politik atau berhenti bekerja," ujar Aheng.

Diceritakan Aheng, bos-nya tak suka dengan anak buahnya yang terjun ke dunia politik. Karena itu, Aheng berhenti dari PT Triva dan bertualang di dunia politik.

"Sebelum berhenti, saya tugas di Pelalawan. Bolak-balik setiap minggunya untuk kampanye," tutur Aheng.

Pada akhirnya, Aheng berhenti. Ia berjuang sendiri dalam merebut hati rakyat. Tak sedikit pun ia mendapat bantuan dari mantan bos-nya. Alhasil, ia mampu meraup banyak suara.

"Tapi tak duduk, karena sistem Pileg yang menguntungkan nomor urut. Setelah itu, saya ditarik kembali oleh Pak Rustam bekerja di PT Triva," kata Aheng.

Pada tahun 2009, Aheng kembali mencoba peruntungan di Pileg. Kendati harus kehilangan pekerjaan di PT Triva, ia lebih memilih untuk menjadi penyambung lidah rakyat.

"Kalau dipikir, pekerjaan saya sudah enak dan gaji lumayan. Tapi, saya ingin membangun kampung, makanya memilih keluar lagi," tegas Aheng.

Ya, benar saja. Suami dari Dian Anggraini ini sukses memenangkan hati masyarakat Dapil IV Kuansing.

Begitu juga pada Pileg 2014, untuk keduakalinya Aheng dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi wakil rakyat di DPRD Kuansing. **