PEKANBARU - Penggiat maupun peminat olahraga di Kota Pekanbaru, Riau terus meningkat khususnya bagi generasi muda, dan salah satu cabang olahraga (cabor) yang cukup dminati ialah sepakbola. Banyak sekolah sepakbola yang bermunculan dengan tujuan melahirkan pesepakbola profesional, salah satunya Sekolah Sepakbola (SSB) Garuda Melayu.

Meski tergolong masih muda, SSB Garuda Melayu yang resmi berdiri tanggal 5 Agustus 2018 itu sudah sangat diminati generasi muda di Kota Bertuah. Tercatat dalam kurun waktu satu bulan sudah ada sekitar 150 siswa terdaftar di SSB yang dirntis oleh dua pelatih sepakbola yang sudah terbukti kualitasnya di Kota Pekanbaru.

Dua pelatih penggas SSB Garuda Melayu yakni, Muhammad Zulmi yang merupakan pendiri SSB Bina Muda dan SSB Bintang Harapan. Dua SSB ini juga pernah menyumbangkan 13 pemain untuk PSPS Junior. Kemudian ada Edi Iskandar yang merupakan pendiri SSB Portes, dimana para siswanya menjadi cikal bakal lahirnya supporter PSPS Riau, Asykar Theking.

"SSB Garuda Melayu pun kini menjadi salah satu magnet bagi generasi muda dan juga para orangtua di Kota Pekanbaru untuk memberikan aktifitas dan kegiatan positif bagi anak-anaknya, dari pada dibiarkan melakukan hal negatif atau merugikan," kata Muhammad Zulmi.

Zulmi melanjutkan, ia dan rekannya Edi Iskandar ingin mewujudkan mimpi untuk memajukan persepakbolaan usia dini di Riau, khususnya Kota Pekanbaru dengan metode latihan dan konsep yang berbeda dari sekolah sepakbola lainnya. Dengan memberikan warna baru dunia prsepakbolaan usia dini di Bumi Lancang Kuning.

"Kami ingin membuat kompetisi sepakbola usia dini kmbali berjalan, dan kami juga merencanakan mendirikan empat hingga lima Garuda Melayu. Sebelum itu, kami ingin mencocokan visi dulu dengan teman-teman yang ingin bergabung bersama kami," tegasnya.

Sementara itu, Edi Iskandar menuturkan, ingin menjadikan SSB Garuda Melayu sebagai trendsetter, salah satunya dengan mengajarkan sportifitas agar tidak bermain curang dalam berkompetisi dan meraih kemenagan. Sportifitas ini tidak hanya bagi siswa, namun juga orangtua yang mempercayakan anaknya untuk berprestasi di SSB Garuda Melayu.

"Salah satunya dalam proses seleksi, kami tidak akan memainkan anak yang terseleksi dengan cara curi umur. Sebab, bagi kami kecurangan itu adalah sebuah bencana. Kami juga jelaskan pada orangtua siswa untuk meraih kemenangan tanpa harus berbuat curang," tutur Edi.

"Kita belajar dari kasus yang sudah-sudah, ada pemain yang bagus ikut skala nasional bermasalah dalam pembuktian tanggal lahir. Pekanbaru punya catatan khusus untuk event nasioal dalam masalah umur. 

SSB Garuda Melayu akan tekankan dalam hal tersebut, dimana untuk meraih kemenangan jangan menghalalkan segala cara," tegasnya.

Masih kata Edi, dengan slogan SSB Garuda Melayu 'Building Skills', ia akan berusaha membangun dan membentuk pemain bertalenta mumpuni dan punya attitude yang bagus. 

Siswa SSB Garuda Melayu tidak hanya diajarkan bermain bola tetapi siswa juga dididik untuk berjiwa sportif.

"Dan juga para siswa tidak hanya kompak di dalam lapangan saja, namun tetap kompak dan memiliki jiwa persaudaraan di luar lapangan. Santun dan taat terhadap orangtua, relgius dan tidak terlibat dengan narkoba," pungkasnya.

Saat ini, SSB Garuda Melayu berlatih di dua lapangan berbeda, yakni d Lapangan FIP Universitas Riau (UR) yang berada di Jalan Thamrin dan di Lapangan Satria, Jalan Singgalang, Kota Pekanbaru. ***