SIBUHUAN - Faisal Hendri Hasibuan diterkam harimau saat minum kopi usai berbuka puasa di rumahnya di Desa Pagaran Bira Jae, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, Ahad (25/5/2019), sekitar pukul 19.15 WIB.

Dikutip dari liputan6.com, sang raja hutan menerkam Faisal dari belakang. Akibat serangan hewan buas itu, pria berusia 45 tahun tersebut mengalami luka robek di kepala belakang, luka cakar di tubuh dan luka robek pada dada kiri.

Warga yang mengetahui peristiwa itu langsung melarikan korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sibuhuan untuk mendapatkan pertolongan medis.

Informasi diperoleh Liputan6.com, dalam kurun waktu sepuluh hari belakangan, sudah dua konflik manusia dengan harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) di Kabupaten Padang Lawas. Pertama terjadi pada Kamis, 16 Mei 2019 di Desa Siraisan, Kecamatan Ulu Barumun. Kedua dialami Faisal, yang belakangan diketahui sebagai Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian.

Pada konflik pertama, korban bernama Abu Sali Hasibuan. Pria 61 tahun ini ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Kepala dan tangan kanannya terpisah dari badan saat ditemukan oleh warga di kebun karet.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) Hotmauli Sianturi mengatakan, ada banyak faktor harimau menyerang manusia, meski pada dasarnya harimau tidak menyukai keberadaan manusia. Sebab, harimau masuk dalam kategori hewan yang habitatnya berada di dalam kawasan hutan, dan tidak menyukai kebisingan.

''Kemungkinan juga, harimau sudah kehabisan makanan di dalam hutan sehingga memilih turun ke perkampungan berburu hewan ternak. Tapi apes, bertemu manusia. Lalu terjadi lah penyerangan harimau terhadap manusia,'' kata Hotmauli di Kantor BBKSDA Sumut, Jalan Sisingamangaraja, Medan Amplas, Kota Medan, Senin (27/5/2019).

Hotmauli menjelaskan, harimau juga termasuk hewan yang tidak mengenal batas kawasan. Harimau tidak hanya berada di dalam kawasan yang secara yuridis diatasi oleh status kawasan, karena harimau bisa berada di Areal Penggunaan Lain (APL) seperti perkebunan dan hutan. Bisa jadi, lokasi penyerangan harimau terhadap manusia dulunya kawasan perlintasannya.

''Bisa saja, dulu di sana tidak ada aktivitas manusia, dan sekarang sudah ada. Sehingga berjumpa antara manusia dengan harimau, terjadilah penyerangan,'' jelasnya.

Hotmauli menyebut, pihaknya diwakili Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan sudah memasang kamera trap di lokasi penemuan korban tewas atas nama Abu Sali Hasibuan. Bersama masyarakat, mereka sudah memasang perangkap di sekitar perkebunan dengan syarat tidak melukai ataupun membunuh harimau.

Pihaknya juga bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti kepolisian, dalam hal ini Polsek Sosopan, Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRSHD) Sumatera Barat, Muspida Padang Lawas, dan lainnya. Mereka membentuk 3 tim patroli di Desa Siraisan, Desa Hutabarhot, dan Desa Pagaran Bira Jae.

''Kita mengimbau kepada masyarakat berhati-hati saat beraktivitas di perladangan maupun perkebunan. Kita imbau untuk tidak sendirian dan melaporkan kepada petugas kalau mendengar atau menemukan tanda-tanda kehadiran binatang buas,'' imbaunya.

BBKSDA Sumut juga mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari tindakan atau perbuatan yang menyebabkan terluka atau matinya satwa liar, khususnya jenis yang dilindungi undang-undang. Kecuali terpaksa untuk melindungi keselamatan diri.

Kecamatan Ulu Barumun di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sosopan, Padanglawas. Tahun 2017, dalam dua hari terjadi dua kali harimau sumatera mati. Pertama Senin, 10 Juli 2017, di Desa Haporas, Kecamatan Sosopan, seekor harimau jantan diperkirakan berusia tiga tahunan, ditemukan lemah tak berdaya di perkebunan dan akhirnya mati.

Sehari berikutnya, Selasa, 11 Juli 2017, di desa yang sama seekor harimau sumatera tewas dengan beberapa bagian tubuhnya hilang, yakni sepasang taring dan kumisnya. Harimau dibunuh karena memasuki kawasan permukiman masyarakat dan dianggap meresahkan.***