PEKANBARU, GORIAU.COM - Dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan oleh Eva Yuliana, istri Bupati Kampar Jefry Noer, terhadap Nur Asmi (36) warga Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampar Timur berbuntut panjang. Insiden itu memicu aksi unjuk rasa di sekitar jembatan Danau Bingkuang, kecamatan Tambang kabupaten Kampar Riau, Rabu (4/6/2014).

Ratusan warga, mahasiswa dan kalangan LSM turun ke jalan lintas Riau-Sumatera Barat dalam aksi itu. Akibatnya, jalur transportasi sempat lumpuh selama aksi unjuk rasa berlangsung. Massa menghadang kendaraan roda empat melintas. Kecuali, kendaraan yang mengangkut orang sakit.

Sehingga, pihak Satuan Lalu Lintas Polres Kampar mengalihkan kendaraan ke jalan alternatif. Kendaraan dari arah Pekanbaru dialihkan ke Sungai Pinang. Sedangkan dari arah Sumatera Barat dialihkan lewat Tapung dan Air Tiris. Kondisi lalu lintas itu berlangsung hingga pukul 14.00 WIB, bubarnya aksi.

Unjuk rasa diawali dengan pembakaran ban bekas di badan jalan nasional itu. Peserta aksi secara bergantian menyampaikan orasi seputar kekesalan mereka terhadap kepemimpinan Bupati Kampar Jefry Noer dan istrinya Eva Yuliana yang juga Wakil Ketua DPRD Kampar.

Mereka menuntut agar Jefry Noer segera mundur dari jabatannya sebagai Bupati. "Jefry Noer telah gagal memimpin Kampar. Pemimpin yang tidak pantas menganiaya masyarakatnya sendiri," teriak Koordinator Umum Aksi Unjuk Rasa M. Rafi dalam orasinya.

Rafi mengecam tindakan kekerasan yang dialami oleh Nur Asni hingga harus dirawat di rumah sakit. Menurutnya, insiden Sabtu (31/5) lalu itu adalah yang kesekian kali terjadi di kabupaten Kampar. Sejumlah warga terpaksa harus berurusan dengan hukum bahkan dipenjarakan karena melawan pemerintahan Dinasty Jefry Noer.

Seorang mahasiswa Rahmat Yani, pernah mendekam di balik jeruji selama lima bulan, menuntut keberanian aparat penegak hukum menangkap dan mengadili Jefry Noer dan keluarganya. Apalagi, dia menuding, Bupati terlibat dalam kasus korupsi di Kampar. ***