JAKARTA, GORIAU.COM - Dedi (34), tukang ojek korban salah tangkap polisi mengalami musibah bertubi-tubi. Setelah dibui meski tak melakukan tuduhan yang dialamatkan padanya, dia juga harus kehilangan buah hatinya saat mendekam di Rumah Tahanan (rutan) Cipinang, Jakarta Timur.


Dedi menyebut kesehatan anaknya, Muhammad Ibrahim atau Baim (3) menurun, setelah dirinya ditahan. Baim bahkan sempat jatuh sakit lantaran rindu ingin bertemu dengannya. Baim sama sekali tak mau makan bila tak diberikan langsung pada sang ayah. Akibatnya, beberapa hari kemudian dia dirujuk ke rumah sakit karena mengidap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).


Setelah keluar dari rumah sakit, kondisi Baim bukannya membaik malah makin memburuk. Dia kembali dirujuk ke rumah sakit karena mengalami kekurangan gizi. Ia mengatakan saat sakit anaknya tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.


"Semenjak sakit, ia makin kurus. Bahkan untuk berdiri saja sulit, dia selalu terjatuh. Padahal kita rutin memberikannya dia makan," terangnya di Jalan Kebon Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (1/8).


Sebelum ditangkap, menurut dia, Baim selalu ceria dan sering menemaninya beraktivitas. Bahkan, sang istri, Nurochmah, mengakui anaknya memang lebih dekat dengan Dedi ketimbang dirinya.


"Soalnya ayahnya yang kasih makan, mandiin dia, ngajak main dan tidur bareng. Serta keliling naik motor. Dia sakit karena kangen sama ayah," terangnya.


Menurut Nurrochmah, selama di penjara, Dedi hanya bisa mengetahui kondisi Baim lewat telepon. Dedi juga sempat memberikan mainan perahu yang dibuatnya selama di rutan.


Singkat cerita, setelah ditahan selama tiga bulan tepatnya 25 Januari lalu, dia mendapat berita duka. Baim dikabarkan meninggalkan dunia tepat di hari ulang tahunnya yang ketiga.


Mendengar berita itu, ia mengaku berusaha mendatangkan Dedi sebelum anaknya dimakamkan. Ia bersama keluarga dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) berusaha meminta penangguhan penahanan untuk Dedi.


Sayangnya, pihak kepolisan dan pengadilan tak memberikan izin. Lantaran satu hari berikutnya, ia mesti menjalani proses persidangan. Dedi pun hanya mampu menangis sedih di rutan tanpa melihat langsung anaknya pergi.


"Makanya, ia baru bisa liat setelah dikubur, kita berdua sangat sedih. Sudah minta surat ke RT,RW dan berbagai tempat tapi tidak dikabulkan," kata dia.***