JAKARTA - Gempa 6,9 magnitudo (kemudian diperbarui jadi 6,8 magnitudo) terjadi di Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (12/4) malam, sekitar pukul 18.40 WIB. BMKG sempat mengumumkan peringatan dini tsunami, namun kemudian dicabut pada 19.47 WIB.

Dikutip dari kumparan.com, BMKG memastikan gempa 6,8 magnitudo di Banggai, berasal dari sesar berbeda dengan gempa Palu dan Donggala yang terjadi beberapa waktu lalu.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan, sumber gempa Palu berasal dari Sesar Palu Koro dan pusat gempa berada di darat, sedangkan gempa di Banggai berpusat di laut.

''(Sumber gempa Palu dengan Banggai) itu jelas berbeda. Kalau di Palu Koro dari Palu sampai ke Koronga, membelah kepulauan Palu. Nah ini (gempa Banggai) ada di laut dan lokasinya cukup jauh beberapa ratus kilometer,'' ujar Rahmat usai konferensi pers di BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (12/4).

''Yang satu sumber gempanya di darat, Sesar Palu Koro yang fenomenal ya dan itu lebih aktif tingkat kegempaannya dibandingkan yang saat ini terjadi dan (gempa sekarang) ini ada di laut,'' tambahnya.

Selain itu, Rahmat memastikan ada beberapa faktor lain yang membuat gempa Palu dan Donggala berdampak lebih besar dibandingkan gempa di Banggai. Rahmat menjelaskan, saat gempa Palu meski berpusat di darat namun ada longsoran bawah laut yang membuat tsunami. Rahmat memastikan kondisi ini tak terjadi saat gempa di Banggai.

''Ini dalam pengamatan kami tidak ada indikasi adanya longsor, tentunya terus kita monitor, tentunya tidak ada kejadian (seperti) di Palu. Dimulai dengan gempa pendahuluan, kemudian gempa main shock yang 7.2 magnitudo dan akhirnya menurun,'' jelasnya,

Meski demikian, Rahmat menjelaskan ada hal yang sama pada gempa di Palu dan Donggala dengan gempa di Banggai, yakni mekanisme gempa terjadi secara mendatar atau strike slip.

''Mekanismenya sama-sama mendatar, kalau Palu di darat, kalau ini sama mendatar juga tapi ada di laut dan tak ada longsor bawah laut yang berdampak tsunami,'' pungkas Rahmat.***