JAKARTA - Syahrul Anto, salah seorang penyelam Basarnas, meninggal dunia saat mencari korban Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Jumat (2/11/2018).

Dikutip dari Liputan6.com, istri Syahrul Anto, Lian Kurniawati (39), hanya bisa pasrah mengetahui suaminya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Lian Kurniawati mencoba mengingat komunikasi terakhirnya dengan sang suami. Dia kemudian teringat sebuah pesan yang dikirim suaminya sebelum menyelam mencari korban Lion Air yang jatuh di Tanjung Karawang. Dia baru menyadari, pesan itu merupakan pesan terakhir dari suaminya.

''Sepertinya sudah firasat, tapi saya baru sadar sekarang,'' tutur Lian, usai pemakaman suaminya di Surabaya, Sabtu (3/11/2018).

Dalam pesan singkat melalui WhatsApp, Syachrul Anto menulis sebuah pesan tentang takdir. Berikut bunyi pesannya:

''Pagi itu, satu demi satu penumpang mendekat ke pintu keberangkatan di Soekarno Hatta. Petugas check in menyambut mereka dengan senyum.

Sekitar 180 orang mendekati takdirnya. Ada yang tertinggal karena macet di jalan, ada yang pindah ke pesawat lebih awal karena ingin cepat sampai. Dan ada juga yang batal karena ada urusan lain yang tiba-tiba.

Tak ada yang tertukar. Allah menyeleksi dengan perhitungan yang tak pernah salah. Mereka ditakdirkan dalam suatu janjian berjamaah. Takdirnya seperti itu tanpa dibedakan usia, proses pembelian tiket, check in, terbang dan sampai akhir perjalanan hari ini, hanya sebuah proses untuk jalan pulang, menjumpai Allah yang tertulis di Lauhul Mahfuz.

Sebuah catatan yang tidak pernah kita lihat, tapi kita jumpai. Takdir sangatlah rapih tersusun, kehendak Allah tak terjangkau dengan akal manusia. Allahu Akbar.

Lalu, kapan giliran kita pergi? Hanya Allah yang tahu. Kesadaran iman kita berkata Bersiap setiap saat. Kapanpun dan dalam keadaan apapun. Mari kita benahi ketaqwaan kita untuk bekal pulang ke kampung abadi. Hanya itu jalan terbaik''.

Akibat Dekompresi

Sebelumnya Dansatgas SAR Kolonel Laut (P) Isswarto mengatakan, Anto meninggal karena dekompresi.

''Diduga dekompresi karena tekanan, bekerja tidak tahu waktu, harusnya naiknya pelan-pelan, lima meter berhenti dulu, sampai muncul (ke permukaan), dia mungkin langsung,'' kata Isswarto saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu (3/11/2018).

Menurut Isswarto, harusnya penyelaman pencarian korban Lion Air berakhir pada pukul 16.00 WIB, karena kondisi gelap dan cuaca yang kurang bersahabat. Namun, korban masih berada di bawah laut hingga pukul 16.30 WIB.

''Korban dari sipil, penyelam Basarnas,'' kata Isswarto.***