BADUNG - Tingginya toleransi antar umat beragama di Bali tergambar pada suasana Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1941, Kamis (7/3).

Dikutip dari kumparan.com, di Desa Adat Tuban yang berada di Kabupaten Badung, Bali, sejumlah warga non-Hindu dalam desa ini ikut berpartisipasi menjaga keheningan dan kedamaian saat Nyepi. Mulai dari menjadi pecalang alias polisi adat, hingga mengumandangkan azan tanpa pengeras suara.

''Toleransi ini telah lama kami jaga, penduduk di Desa Adat Tuban itu juga sebagian besar adalah warga non-Hindu dengan perbandingan 1 banding 4, dengan jumlah penduduk 18 ribu dan luas wilayah 3.000. Kami ingin menunjukkan toleransi ini kepada semua pihak. Di Bali, ada toleransi yang tinggi,'' kata Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, kepada wartawan di Kantor Desa Tuban.

Azan tanpa pengeras suara ini tampak ketika sejumlah pecalang, termasuk Agus Andarjanus (pecalang beragama Kristen), berkeliling memantau keamanan di sekitar masjid yang berada di Jalan Raya Tuban pukul 19.00 WITA. Hanya bermodal senter dengan penerangan yang rendah, pecalang berkeliling di kawasan itu.

Saat tiba di masjid, tampak sejumlah umat Muslim tengah melakukan salat. Usai salat, para pecalang disambut oleh dua pengurus masjid. Lalu, tampak mereka berdiskusi. Tak lama setelah itu, pecalang meninggalkan lokasi.

''Dasarnya kami memberikan adalah negara menjamin beribadah sesuai dengan keyakinannya, sesuai Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Mereka memberikan toleransi besar maka kami juga wajib memberikan toleransi,'' kata Mendra.

Sedangkan, dari 135 pecalang yang menjaga keamanan di Desa Adat Tuban, ada 4 pecalang non-Hindu. Mereka adalah Agus Andarjanus yang beragama kristen, I Wayan Toyib, Triono, dan Haji Sidik yang beragama Islam.

''Masalah keamanan masa Nyepi bukan hanya masalah kami, tetapi masalah keamanan seluruh warga Desa Adat Tuban,'' jelas Mendra soal pecalang itu.

Pecalang non-Hindu ini sebenarnya direkrut dari tim Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang sudah cukup lama mengabdi, telah menikah, dan dinilai mampu bersikap dewasa.

Di tempat yang sama, Toyib menceritakan sudah menjadi pecalang sejak tahun 1999. Ia merupakan generasi pertama pecalang non-Hindu. Toyib mengaku ikhlas berjaga saat Nyepi.

Sebab, lelaki asal Bugis, Makassar, ini telah mencintai Bali dan seluruh hal yang berkaitan dengan Bali. Apalagi, ia memang sudah sejak lahir berada di Bali.

''Tuhan itu satu, kenapa dibuat gaduh, agamaku agamaku, agamamu agamamu. Nenek saya Hindu, menikah dengan muslim lalu mualaf. Lahir bapak, ambil orang Hindu, jadi mualaf lagi. Ya jadi seperti tidak terelakkan. Keluarga Islam pasti punya saudara di Hindu, demikian sebaliknya,'' kata Toyib.***