JAKARTA - Putra Ketua MA Hatta Ali, Mohamad Irfan (41), meninggal dunia di Namibia, Afrika, setelah kecelakaan saat mengendarai moge (motor gede).

Dikutip dari kumparan.com, Irfan saat ini masih tercatat sebagai Dewan Komisaris Telkomsel. Ucapan duka juga datang dari Telkomsel.

''Bersama ini segenap jajaran Direksi dan karyawan Telkomsel sangat berduka serta kehilangan salah satu sosok pemimpin di perusahaan kami, semoga amal ibadah Almarhum diterima Allah SWT,'' kata Denny Abidin selaku VP Corporate Communications Telkomsel, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/6).

Mengutip laman resmi Telkomsel, Irfan diangkat sebagai Komisaris Telkomsel sejak Juli 2018.

Ia juga menjabat sebagai Komisaris di PT Mandala Putera Prima, PT Nurbaitullah Tour & Travel, PT Mirga Metracon dan PT Faidhi Systema Solusindo (Fasyndo).

Tak hanya itu, ia juga pernah berkarier di PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) sebagai komisaris, PT Mediavision Innovative Technology sebagai Sales Director dan di PT Philips Indonesia sebagai Key Account Manager - Government Segment, Project Coordinator - Government Segment untuk Jawa Timur, Bali, NTB & NTT.

Pada GE Consumer & Industrial - PT GE Lighting Indonesia, Irfan menjabat Sales Engineer DKI Jakarta dan Sales Engineer Sulawesi Selatan. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Business Development Officer di PT Phoenix International Indonesia. Irfan yang lahir pada tahun 1978 merupakan lulusan Universitas Hasanuddin, Makassar, pada tahun 2001 jurusan Manajemen Pemasaran. Kemudian, ia meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Indonesia pada tahun 2004 dengan jurusan yang sama.

Kronologi Kejadian

Mohamad Irfan, meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal di Namibia, Afrika. Pejabat Fungsi Politik KBRI Windhoek, Dessi Herlin Yudistira Imbiri, menjelaskan kronologi kejadian.

Dessi mengungkapkan, Irfan ikut dalam rombongan tim Adventure Touring Nostalgia (ATN) yang dipimpin Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna. Mereka melakukan kegiatan touring dengan menggunakan motor sejak tanggal 11 Juni dengan rute Cape Town-Namibia-Botswana-Zimbabwe-Zambia.

''Tanggal 16 Juni, tim masuk wilayah Namibia dan menjelajah gurun dan padang savana di beberapa kota di Namibia,'' kata Dessi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/6).

16 Juni: Tim masuk wilayah Namibia dan menjelajah gurun dan padang savana di beberapa kota di Namibia.

19 Juni: Sekitar jam 11.47, Nanan memberitahukan KBRI Windhoek telah terjadi kecelakaan tunggal 2 orang anggota timnya di daerah Naukluf National Park, 294 km dari Kota Windhoek.

Mobil ambulans dan polantas membawa ke 2 korban kecelakaan atas nama Mohamad Irfan dan Endyk Bagus Musdyantoko menuju RS terdekat dari TKP Maltahohe Hospital untuk kemudian dibawa ke Mariental Hospital.

Tim KBRI Windhoek (3 orang) juga menuju ke Mariental Hospital untuk membantu penanganan korban lebih lanjut.

20 Juni, pukul 00.01 waktu setempat, KBRI Windhoek menyambut kedatangan jenazah Irfan di Windhoek yang dibawa ambulans kepolisian dari Kota Mariental ke Windhoek dan dikawal 3 staf KBRI.

Jenazah saat ini disemayamkan sementara di Mortuary Windhoek Central Hospital untuk kemudian akan dilakukan proses pengurusan administrasi jenazah.

Sebagai informasi, tim Adventure Motorcycle Touring Nostalgia terdiri dari 18 orang WNI yang selama 19 hari akan menempuh 4.700 km dan menjelajahi 5 negara Afrika yaitu Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe dan Zambia. Tim ini dipimpin oleh Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna yang di tahun 1989-1990 pernah bertugas di Namibia sebagai salah satu anggota pasukan perdamaian di bawah United Nations Transition Assistance Group (UNTAG).

Selama berada di Namibia, tim touring bernostalgia dengan menjelajahi, mengeksplorasi dan menikmati keindahan flora dan fauna unik yang hanya dapat dinikmati di Namibia. Beberapa obyek wisata terkenal Namibia yang telah dikunjungi antara lain adalah Fish River Canyon, Kota Luderitz, dan Namib Naukluft National Park.

Tim Touring juga menggunakan kesempatan ini untuk singgah di Kota Windhoek selama 2 hari 1 malam guna bertemu dengan keluarga besar KBRI Windhoek sebelum bertolak melanjutkan perjalanan menuju Botswana.

Selain berpetualang menggunakan motor, tim ini juga membawa misi mulia yaitu mempromosikan citra Indonesia di luar negeri.***