ABU DHABI - Pemimpin tertinggi umat Katolik Paus Fransiskus secara mengejutkan untuk pertama kalinya mengakui bahwa para pendeta di lingkungan Gereja Katolik melakukan pelecehan seksual terhadap para biarawati.

Dikutip dari liputan6.com yang melansir BBC, dikatakan Paus, dalam satu kasus, perilaku itu menjadi bentuk kekerasan ketika korban disimpan sebagai budak seks.

Dijelaskan Paus, pendahulunya, Paus Benediktus, pernah terpaksa menutup seluruh kongregasi biarawati karena dilecehkan oleh para pendeta, demikian seperti dikutip dari BBC, Rabu (6/2/2019).

Dia mengatakan, Vatikan berusaha untuk mengatasi masalah tersebut, tetapi menambahkan hal itu ''masih berlangsung''.

Paus Fransiskus membuat komentar pada Selasa 5 Februari 2019 kepada para wartawan, saat melakukan perjalanan bersejarah ke Timur Tengah.

Dia mengakui bahwa para pendeta dan uskup telah melecehkan biarawati, tetapi mengatakan Gereja sadar akan masalah ini dan ''mengusahakan'' agar kejadian serupa tidak terulang di lingkungan Gereja Katolik lain.

''Itu jalan yang sudah kita lalui,'' katanya.

''Paus Benediktus memiliki keberanian untuk membubarkan sebuah jemaat perempuan pada tingkat tertentu, karena perbudakan perempuan ini telah memasukinya, bahkan sampai pada titik perbudakan seksual,'' ujarnya.

Paus Fransiskus mengatakan, pelecehan seksual terhadap biarawati adalah masalah yang terus-menerus terjadi, tetapi sebagian besar terjadi di ''sejumlah jemaat, terutama yang baru''.

November 2018, organisasi global biarawati Gereja Katolik mengecam ''budaya keheningan dan kerahasiaan'' yang mencegah mereka berbicara.

Beberapa hari yang lalu majalah perempuan Vatikan, Women Church World, mengutuk pelecehan itu, mengatakan dalam beberapa kasus biarawati dipaksa untuk menggugurkan anak-anak hasil hubungan dengan pendeta -- sesuatu yang dilarang oleh Katolik.

Majalah itu mengatakan gerakan tagar #MeToo telah membuat lebih banyak perempuan berani maju menyuarakan pengalaman mereka tentang kekerasan seksual.***