JEMBER - Polisi berhasil mengungkap pelaku pembunuhan terhadap wanita muda bernama Fani Amalia Herniati, warga Perumahan Karyawan PTPN XII Dusun/Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari, Jember, Jawa Timur.

Dikutip dari merdeka.com, Fani yang jenazahnya ditemukan dalam kondisi tertusuk pisau di rumahnya, Ahad (27/10), ternyata dibunuh oleh suaminya sendiri, Rendi Setiawan (28).

Jasad Fani pertama kali ditemukan Frenda, adik ipar korban, dalam kamar tidurnya dalam kondisi perut tertusuk pisau. Pisau yang menancap di bagian perut atas pusar sebelah kiri itu tembus hingga bagian punggung korban dan juga tertancap di kasur.

Saat itu, Frenda hendak mengunjungi korban bersama sang bibi, Srihartatik.

''Korban ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa sekitar pukul 7.45 WIB. Posisi korban saat itu dalam kondisi terlentang di atas kasur tempat tidur,'' ujar Kapolsek Mumbulsari AKP Heri Supadmo saat dikonfirmasi wartawan.

Frenda dan Srihartatik langsung histeris mendapati perempuan itu dalam kondisi tak bernyawa. Teriakan mereka mengundang kedatangan warga ke rumah korban. Awalnya warga mengira teriakan itu karena di dalam rumah terdapat ular. Namun ternyata, karena korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

''Saat itu di rumah hanya ada korban sendirian. Suaminya sedang pergi ke desa sebelah, juga untuk membeli obat,'' papar Heri.

Alibi Pelaku

Frenda (adik ipar korban) dan Suhartatik (bibi korban) ternyata datang ke rumah Fani atas permintaan suami korban, Rendi Setiawan. Kepada kedua kerabatnya itu, Rendi meminta tolong melalui pesan di WA agar dibantu mengirimkan obat untuk korban.

Saat itu, Rendi beralasan sedang berada di luar rumah, yakni untuk membeli obat. Rendi juga mengaku khawatir karena pesan WA yang dikirim ke istrinya tidak kunjung dibalas.

''Jadi pelaku R sengaja membuat beberapa alibi, salah satunya meminta dua orang saksi ini datang ke rumahnya untuk membawakan obat. Tujuannya agar yang menemukan jenazah pertama kali adalah seolah-olah adalah dua kerabatnya itu dan seolah-olah suami korban tidak tahu apa-apa,'' jelas Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal

Untuk mendukung skenario Alibi itu, Rendi yang kini sudah ditetapkan menjadi tersangka, sengaja menaruh kunci rumah di sepeda motor yang diparkir dekat rumah.

Polisi yang melakukan olah TKP dan memeriksa beberapa saksi, mulai curiga kepada Rendi. ''Saat jenazah ditemukan, pelaku R beralasan sedang berada di sebuah apotek. Setelah kita cek, ternyata tidak ada karyawan di sana yang mengaku melihat pelaku R pada rentang waktu tersebut. Di situ kita mulai curiga,'' tutur Alfian.

Setelah alibi berada di apotek terbantahkan, polisi juga mulai curiga soal kunci rumah. Kunci rumah hanya ada satu dan dikuasai oleh suami korban, yang ditaruh di sepeda motor. Di sisi lain, tidak ada tanda-tanda kerusakan pada pintu maupun jendela. Fakta ini mematahkan kemungkinan bahwa pembunuhan dilakukan oleh orang luar yang tidak mengenal korban.

Setelah beberapa fakta terungkap, polisi lantas mengarahkan fokus pemeriksaan kepada suami korban. ''Kita periksa secara maraton hingga akhirnya pelaku mengakui perbuatannya,'' jelas Alfian.

Terlibat Cekcok

Kepada polisi, tersangka Rendi mengaku tersulut emosi hingga spontan menusukkan pisau ke perut istrinya. Pasangan muda itu terlibat cekcok pada Sabtu malam atau Minggu dini hari.

''Pelaku R secara spontan mengambil pisau yang ada di tembok untuk kemudian ditusukkan ke perut istrinya. Setelah itu, dia juga sempat membekap muka korban dengan bantal,'' ujar Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal.

Faktor ekonomi dan komunikasi disebut Rendi sebagai pemicu cekcok keduanya. ''Setelah pembunuhan, pelaku keluar rumah pada Minggu (27/10) sekitar pukul 04.00 WIB,'' kata Alfian.

Berkat Boneka Teddy Bear

Rendi Setiawan, sang suami, diduga sempat menyusun skenario agar pembunuhan terhadap Fani Amalia Herniati dikesankan sebagai kasus bunuh diri. Salah satunya dengan memberi boneka Teddy Bear berwarna biru di sekitar perut korban.

Namun, justru dari boneka imut dan lucu itulah, yang menjadi kunci bagi polisi untuk mampu mengungkap kasus ini, hanya dalam waktu beberapa jam saja.

''Boneka ini yang menjadi kunci awal. Karena kalau bunuh diri, tidak mungkin (si pelaku bunuh diri) sempat mengambil boneka untuk menutupi pisau. Ketika perut tertusuk 5 sampai 10 cm saja, pasti akan sakit,'' ujar Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal, di Mapolres Jember pada Senin (28/10).

Adapun pisau yang menancap di perut korban, memiliki panjang sekitar 39 centimeter. Pisau menancap sangat dalam, dari ujung hingga mencapai hampir gagang pisau. Dari situ, polisi mulai curiga bahwa boneka tersebut diletakkan oleh orang lain. Artinya, ini bukan kasus bunuh diri, melainkan pembunuhan.***