JAKARTA, GORIAU.COM - Lahir dari rahim militer, ternyata tidak membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai mental yang kuat dan bijak. Justru sebaliknya SBY mudah kebakaran jenggot saat dirinya dikritik.

Direktur Eksekutif Nurjaman Center For Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman melalui rilisnya kepada GoRiau.com mengatakan, mungkin SBY adalah Presiden pertama di dunia yang melayangkan somasi terhadap warganya.

Seperti penunjukan kuasa hukum oleh SBY ternyata tidak main-main. Sudah ada tiga orang yang disomasi oleh SBY melalui kuasa hukumnya yakni Sri Mulyono aktivis Pergerakan Perhimpunan Indonesia ( PPI ), Fahri Hamzah politisi PKS sekaligus anggota DPR RI Komisi III, dan Rizal Ramli mantan Menteri Perekonomian pada tahun 2000-2001.

Menurut Nurjaman apabila dilihat dari sosok SBY yang tumbuh dari rahim militer, sepantasnya SBY mempunyai mental yang kuat dan bijak. Jangan seperti orang yang kebakaran jenggot ketika menghadapi berbagai kritikan yang ditujukan kepadanya.

''Kritikan itu bagian dari kebebasan berpendapat dan sudah menjadi konsekuensi bagi seorang pemimpin, tidak perlu panik,'' tegas Jajat.

Jajat menambahkan, menjelang pemilu akan ada beberapa calon dari militer yang maju sebagai Capres. Seperti Pramono Edhie peserta konvensi capres dari partai Demokrat, Endriartono Sutarto peserta Konvensi capres Demokrat, Wiranto Capres dari partai Hanura,  Sutiyoso capres dari PKPI, dan Prabowo Capres dari Gerindra. Para capres yang berasal dari militer diharapkan dapat menjadi pemimpin yang cepat tanggap dan tidak mengeluarkan reaksi yang berlebihan terhadap berbagai kritikan yang di tujukan kepadanya.

''Banyak para tokoh besar di negeri ini yang terkena berbagai isu negatif namun tidak reaktif seperti Presiden SBY,'' ujarnya.

Seharusnya presiden SBY di akhir karirnya sebagai Presiden, menciptakan banyak prestasi, bukan mengundang kontroversi dan dapat memberikan kesan yang baik serta menjadi contoh bagi pemimpin selanjutnya.

''Pemberian somasi tersebut merupakan degradasi sikap dan moral mengecewakan bagi rakyat Indonesia yang sudah mendukung beliau 10 tahun lamanya,'' tutup Jajat. ***