JAKARTA - Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ( KPPS) yang meninggal dunia sudah mencapai 554 orang. Mereka disebut meninggal karena kelelahan.

Namun, spesialis syaraf, dokter Ani Hasibuan menegaskan, faktor kelelahan tidak bisa begitu saja menjadi penyebab kematian seseorang.

Dikutip dari tribunnewsbogor.com yang melansir dari tayangan Catatan Demokrasi Kita edisi Selasa (8/5/2019), Ani Hasibuan, menjelaskan, beban kerja yang diemban petugas KPPS tidak memiliki kelebihan yang berarti.

''Saya melihat beban kerjanya KPPS. Itu beban kerjanya saya lihat tidak ada fisik yang sangat capek. Kan dia bergantian ada 7 orang. Ada aturan boleh bergantian,'' ungkap Ani Hasibuan.

Karenanya, jika ada pernyataan yang menyebut bahwa ratusan petugas KPPS meninggal karena kelelahan, menurut Ani Hasibuan adalah tidak tepat.

''Jadi kematian karena kelelahan, saya belum pernah ketemu. Saya ini sudah 22 tahun jadi dokter belum pernah saya ketemu ada penyebab kematian karena kelelahan,' imbuh Ani Hasibuan.

Namun, berbeda kasusnya ketika ada seseorang yang memiliki riwayat penyakit kronis lalu meninggal akibat kelelahan.Sebab menurutnya, kelelahan itu bisa memicu penyakit kronisnya itu muncul.

''Kalau dia ada gangguan jantung di awal, oke. Fisiknya diforsir kemudian sakit jantungnya terpicu dia meninggal, karena jantungnya dong bukan karena kelelahan,'' kata Ani Hasibuan.

Ani Hasibuan kembali menegaskan, bahwa kelelahan sejatinya tidak bisa secara langsung membuat seseorang meninggal.

''(Beban kerja, kondisi fisik bisa jadi pemicu meninggal ?) Pemicu kalau dia punya penyakit. Misalnya ada orang dengan tumor otak, tapi beban kerjanya besar, mikir, psikis yaudah ada masalah di neurotransmitir. Bukan karena capeknya,'' ujarnya.

''(Kelalahan bisa membuat orang meninggal ?) Tidak,'' tegas Ani Hasibuan.

Ani Hasibuan menyarankan untuk melakukan autopsi terhadap jasad para petugas KPPS yang meninggal dunia tersebut.

''Tiba-tiba KPU jadi seperti dokter forensik, menyebutkan COD (Cause of death) kelelahan. Mana buktinya? Pemeriksaannya? Yang saya minta, ayo dong diperiksa. Saya enggak ada urusan soal politik. KPU harus tanggung jawab. Urus nih, kenapa yang 500 orang meninggal? Saya minta ini diautopsi,'' sambungnya.***