XIAOJIANGTUN, GORIAU.COM - Setelah bertahun-tahun mengadu nasib di kota besar, pria ini berhasil mengumpulkan banyak uang. Namun tragisnya, ia divonis takkan hidup lama karena mengidap kanker. Tak mau uangnya habis sia-sia mengobati penyakitnya, ia pun menggunakannya untuk kepentingan umum.


Huang Yuanfeng tumbuh di sebuah desa terpencil dan terisolir bernama Xiaojiangtun, di selatan Tiongkok. Namun ia hanya satu dari sedikit orang yang bisa keluar dari desa itu dan mengadu nasib dengan bekerja di kota besar.


Yuanfeng beruntung, ia mendapat pekerjaan di Kota Guilin, yang sebenarnya tak jauh dari desanya. Saat ini, Guilin menjadi salah satu destinasi utama dan paling banyak dikunjungi di Tiongkok dan bisa dikatakan Yuanfeng berhasil di sana.


Berkat pekerjaannya sekarang, Yuanfeng bisa hidup nyaman, bahkan menyekolahkan putrinya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Namun setelah putrinya mendapatkan beasiswa ke salah satu kampus bergengsi di Tiongkok, Guangxi University, Yuanfeng malah didiagnosis mengidap kanker hati. Sayang dokter mengatakan hidup pria yang kini berusia 45 tahun itu takkan lama.


Saat itulah Yuanfeng tergerak untuk melakukan sesuatu bagi desanya. 20 tahun setelah mengadu nasib di kota, Yuanfeng kembali ke desanya dan memutuskan menggunakan sebagian uangnya untuk membangun jalan agar penduduk di desanya memiliki akses untuk keluar dan memperbaiki taraf kehidupan mereka.


"Saya berobat kemana-mana juga tak ada gunanya, jadi lebih baik saya gunakan uang ini untuk hal yang lebih bermanfaat. Dan apalagi kalau bukan membuka jalan agar orang-orang di desa mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya," katanya seperti dikutip dari Mirror, Jumat.


Desa Yuanfeng terletak di balik gunung dan memiliki medan yang sulit dilewati seperti sungai berarus deras. Ia yakin jalan yang ia bikin akan mempermudah mobilitas penduduk, bahkan menarik turis ke desanya. Apalagi pemandangan alam yang ada di sekitaran desanya juga sangat indah.


Untuk mengerjakan jalan raya itu, Yuanfeng menyewa sebuah kru pekerja berikut ekskavator. Bahkan Yuanfeng menjadi mandor dari tim ini sendiri, tak peduli kondisi fisiknya yang lemah karena kanker yang mulai menggerogoti tubuhnya.


Tak sanggup melihat ayahnya seorang diri, putrinya yang bernama Huang Tonghui (21) pun akhirnya melepas beasiswa tersebut dan memilih menemani sang ayah. "Seseorang harus mengurusnya, apalagi kalau saya tidak di sini, ia takkan mau meminum obatnya tepat waktu," ucap Tonghui.***