SURABAYA - Kuasa hukum Vanessa Angel, terdakwa kasus prostitusi online, Milano Lubis, mengaku pihaknya memiliki bukti transfer Rp80 juta dari salah seorang anggota Polda Jawa Timur berinisial HH kepada mucikari untuk mem-booking Vanessa Angel.

''Kami telah menemukan indikasi ada oknum Polda Jatim, telah melakukan rekayasa perkara dalam kasus Vanessa ini. Tapi kami sudah menemukan bukti pentransferan Rp80 juta, yaitu bagian dari Polda Jawa Timur yang berinisial HH,'' kata Milano, usai sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (29/4/2019).

Sementara kuasa hukum mucikari Vanessa, Tentri Novanta (TN), Robert Mantinia dan Yafed Kurniawan juga membeberkan fakta dalam persidangan terkait bukti transfer uang Rp80 juta untuk membooking Vanessa Angel.

Mereka menemukan fakta baru kasus prostitusi online bahwa yang mentransfer uang Rp80 juta tersebut bukanlah Rian Subroto.

''Yang melakukan transfer itu bukan Rian Subroto, melainkan Herlambang Hasea yang mentransfer uang ke Tentri,'' kata Robert.

Mereka sepakat meminta kepada JPU agar sosok Rian Subroto harus dihadirkan. Mereka juga meminta Herlambang Hasea diperiksa sebagai saksi.

''Yang perlu saya tegaskan, agar kasus ini terang benderang saksi kunci, Rian Subroto harus dihadirkan, jika tidak bisa dihadirkan atau dijemput paksa oleh JPU atas perintah hakim,'' tegasnya.

''Hakim harus berani membebaskan. Sesuai fakta hukum dan persidangan, maka Vanessa Angel dan ketiga mucikari harus dibebaskan. Sebab dari mana uang itu ditransfer harus jelas,'' pungkas Robert.

Upaya Paksa

Sementara itu, JPU Novan Arianto membenarkan bahwa majelis hakim telah mengeluarkan penetapan upaya paksa pemanggilan untuk Rian Subroto. JPU Novan Arianto mengaku menerima penetapan dari majelis hakim.

''Sikap kami tentu menerima ya, tapi sejauh ini kami juga kesulitan mendatangkan Rian. Kami juga berkoordinasi dengan Polda, karena sifatnya upaya paksa. Kami minta dukungan juga dari Polda. Selain itu di berkasnya Vanessa, Rian juga telah ditetapkan sebagai DPO,'' ujarnya.

Dia juga menjelaskan, dalam persidangan, ketua RW tempat disebutkan Rian tinggal, mengatakan tidak ada nama Rian Subroto.

''Yang pasti masih kami upayakan untuk mendatangkan Rian pada sidang selanjutnya yang akan digelar pada 6 Mei 2019,'' pungkasnya.

Sebelumnya, sidang lanjutan tiga muncikari kasus prostitusi online, yakni Endang Suhartini alias Siska, Tentri Novanta (TN) dan Intan alias Nindy kembali ditunda lantaran saksi tidak hadir, Senin (29/4/2019).

Dikatakan kuasa hukum Siska, Franky Desima Waruwu, JPU kesulitan mendatangkan Rian Subroto, pengguna jasa Vanessa Angel. Oleh sebab itu, lanjut Franky, majelis hakim akhirnya mengeluarkan penetapan bahwa Rian Subroto resmi menjadi buronan kejaksaan.

Minta Rekaman CCTV Dibuka

Penasihat hukum Vanessa Angel meminta rekaman CCTV yang ada di hotel maupun di bandara dibuka saat persidangan. Dari rekaman tersebut nantinya dapat membuktikan siapa saja yang terlibat.

''Agar kasus ini terang benderang, kami meminta kepada majelis hakim untuk membuka rekaman CCTV di bandara dan hotel tempat Vanessa Angel bersama Rian digerebek saat digrebek,'' terang ketua tim kuasa hukum Vanessa, Abdul Malik, Senin (29/4/2019).

Malik menambahkan, seharusnya tidak mudah melakukan penggerebekan di hotel bintang lima. Sebab, ada prosedur yang harus dilewati. Artinya, tidak segampang seperti melakukan penggerebekan di hotel kelas melati.

Ia juga mengaku bahwa selama ini tim kuasa hukum sudah mencoba untuk meminta sendiri rekaman hotel saat Vanessa Angel digerebek. Namun pihak hotel tidak mau memberikan dengan alasan harus mendapatkan izin dari Polda Jatim.

''Tim sudah pernah minta pada pihak hotel. Tapi tidak diperbolehkan dengan alasan harus ada izin dari Polda,'' tegasnya.

Terkait dengan hal itu, pihaknya akan mengajukan permohonan pada hakim agar mengeluarkan penetapan menyita CCTV sebagai barang bukti.

''Kita ajukan permohonan agar disita rekaman CCTV bandara dan hotel,'' tegasnya.

Sebelumnya, dalam kasus ini Vanessa Angel, didakwa telah mentransmisikan dan mendistribusikan konten asusila kepada mucikari prostitusi online Endang Suhartini alias Siska.

Vanessa Angel dijerat dengan Pasal 27 Ayat (1) UU RI Nomor 11 Tahun 2008 juncto. Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.***