PEKANBARU, GORIAU.COM - Suami Nur Asmi, Jamal didampingi Tim Penasihat Hukumnya, Rabu (4/6/2014) melaporkan ajudan Bupati Kampar, Bripka Very ke Propam Polda Riau. Selain itu juga melaporkan Bupati Kampar Jefry Noer, karena melakukan pembiaran penganiayaan di depannya.

Menurut Tim Penasihat Hukum Nur Asmi, Irwan S Tanjung SH dan Edi Basri SH kepada wartawan, Rabu (4/6/2014), kliennya melaporkan Bripka Very ke Propam Polda Riau, karena melakukan pengeroyokan bersama istri Bupati Kampar, Eva Yuliana. Dan menodongkan senjata api (senpi) ke korban,'' ujar Irwan.

Kemudian tambah Irwan, ia juga melaporkan Jefry Noer, karena membiarkan istrinya dan ajudannya mengeroyok Nur Asmi. "Seharusnya sebagai Bupati ia bisa mencegah atau melerai," ucap Irwan.

Selain itu kata Irwan, pihaknya juga mengajukan permohonan pemindahan kasus pengeroyokan yang dilakukan Eva Yuliana dan ajudan Bupati Kampar ke Polda Riau. ''Rencananya laporan di Polres Kampar akan kita cabut dan laporannya dipindahkan ke Polda Riau,'' ucap Irwan.

Pemindahan laporan dari Polres Kampar ke Polda Riau adalah untuk efektivitas, karena korban masih dirawat di RSUD Arifin Ahmad. Kemudian yang dilawan adalah Bupati. ''Lalu klien kami masih trauma dan belum jalan laporan di Polres Kampar,'' ujarnya. Pemindahan itu dilakukan kata Edi, bukan tidak percaya, tapi karena ingin ada proses yang fair.

Pantauan Tribun Pekanbaru (Tribunnews.com Network) sebagaimana dikutip GoRiau.com, Irwan dan Edi Basri bersama Jamal (suami Nur Asmi) tiba di Mapolda Riau sekitar pukul 11.00 WIB. Sesampainya di Mapolda mereka masuk ke Subbag Yanduan Bid Propam Polda Riau.

Selang beberapa saat penyidik Propam langsung meminta keterangan dari Jamal.

''Bukti yang kita ajukan ke Propam adalah berupa bros jilbab milik Eva Yuliana yang tersangkut di kalung Nur Asmi,'' ungkap Irwan.

Dalam laporan Jamal tersebut, Bripka Very diduga telah melanggar pasal 3 huruf (g) dan atau pasal 5 huruf (a) Peraturan Pemerintah (PP) No.02 Tahun 2003 ttg peraturan disiplin anggota polri dan atau pasal 15 huruf (e) Peraturan Kapolri (Perkap) No.14 Tahun 2011 tentang KEPP.

Karena menurut Edi Basri, oknum anggota polisi itu diduga sempat menodongkan pistol sambil mengeluarkan ancaman menembak. Ketika ditanya ajudan Bupati Kampar itu mengeluarkan senpi karena ada yang membawa senjata tajam (sajam) jenis parang, Irwan menjawab, saat itu ada yang bawa parang.

''Tapi parang itu baru beli di pasar dan masih terbungkus. Kemudian parang itu bukan dipegang melainkan diletakkan di motor,'' kata Irwan.

Terkait kasus pengeroyokan yang dilakukan istri orang nomor satu di Kampar itu, pihaknya memiliki 15 orang saksi (keluarga korban, masyarakat yang melihat kejadian). ''Tapi sampai saat ini Polres Kampar baru memeriksa 5 orang saksi,'' ungkap Irwan.

Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo SIK saat dikonfirmasi wartawan, membenarkan suami korban melapor ke Propam Polda Riau. ''Laporannya masih dalam penyelidikan pihak Propam Polda Riau,'' ujar Guntur.

Saat ditanya ke Guntur apakah benar ajudan Bupati Kampar, Bripka Very menodongkan senpi dan ikut melakukan penganiayaan, Guntur mengatakan, informasi dari penyidik tidak ada penodongan dilakukan Bripka Very.

''Pengakuan Bripka Very ia hanya mengeluarkan senjatanya, karena melihat warga ramai menghadang mobil Bupati sambil membawa parang,'' ucap Guntur.

Hal itu tambah Guntur sudah prosedur, sebab dalam melakukan pengamanan VIP dan VVIP ajudan bisa mengeluarkan senpi bila tamu VVIP atau VIP merasa terancam.

''Dalam kasus itu mobil Bupati dihadang 15 orang dan mobil Bupati berhenti. Lalu ajudan turun dan melihat ada membawa senjata tajam ajudan mengacungkan senpi dan meminta warga meletakkan sajam sebelum melakukan dialog,'' jelas Guntur.

Tapi terkait penamparan Guntur mengaku belum tahu, sebab kasusnya masih dalam penyelidikan. ''Kalau memang ada pemukulan dilakukan ajudan Bupati Kampar itu, maka itu akan diproses,'' tegas Guntur. ***