BATAM - NJ (47), istri pengusaha asal Batam, Kepulauan Riau, melaporkan pria selingkuhannya, Handoko alias Acun (46), ke Polsek Nongsa, Batam.

Dikutip dari tribunnews.com, Kapolsek Nongsa, Kompol Albet Sihite, menerangkan, berdasarkan pengakuan Acun, mereka menjalin hubungan asmara setelah berkenalan melalui Facebook tahun 2015 lalu.

Awalnya NJ dan Acun menjalin cinta jarak jauh. Namun kemudian suatu ketika Acun datang ke Batam dan bertemu dengan NJ.

Saat bertemu, keduanya makan bersama yang kemudian dilanjut dengan mencarikan pelaku (Acun) hotel di kawasan Nagoya.Saat dalam kamar hotel, pelaku mengaku memasukkan sesuatu ke dalam air minum korban, sehingga tak sadarkan diri.

Kesempatan itu digunakan pelaku untuk melepas seluruh pakaian korban dan mengabadikannya lewat beberapa foto.

Selang dua pekan kemudian, korban kaget ketika tersangka mengirimkan beberapa fotonya dalam kondisi tanpa busana.

Foto-foto itu kemudian dijadikan senjata oleh pelaku untuk memeras korbannya.Ia meminta sejumlah uang pada korban dengan ancaman jika tak dituruti, foto-foto tersebut akan disebarluaskan. Sejak itu, korban sering mengirimkan uang ke pelaku.

''Setiap kali tersangka ke Batam, dia menyuruh korban untuk menjemput ke Bandara,'' sebut Albet Sihite, Rabu (3/4).

Bukan hanya meminta uang, pelaku juga kerap memaksa NJ bersebadan (berhubungan intim).

Seolah tidak pernah puas, Acun terus meminta uang. Akhirnya korban bosan dan melaporkan kasus pemerasan ini kepada Polsek Nongsa.

Kemarahan NJ memuncak ketika Acun meminta uang Rp380 juta. Korban tak mau mengirimkan dan memilih melaporkan ke polisi.

Setelah melakukan pendalaman dan mengumpulkan barang bukti, polisi akhirnya berhasil membekuk tersangka Acun di Pulau Jawa.

Kanit Reskrim Polsek Nongsa, Ipda Muhammad Hazaquan mengatakan, pelaku sudah mengakui perbuatannya.

''Dia juga mengaku selama ini selingkuh dengan korban. Dia selingkuh sejak tahun 2015,'' kata Muhammad Hazaquan.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 45 ayat (1) ke 3 UU RI nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan transaksi elektronik Junto Pasal 368 ayat (1) KUHP. Tersangka terancam kurungan penjara paling lama enam tahun.***