JAKARTA, GORIAU.COM - Atase Polisi di KBRI Kuala Lumpur Kombes Polisi Aby Nursetyanto, membantah adanya kesepakatan antara Polri dengan Polisi Diraja Malaysia sehingga kedua anggotanya, yang sempat tersangkut kasus narkoba, bisa bebas. Menurut Aby, keduanya bisa bebas karena tidak terbukti terkait penangkapan warga Filipina yang membawa sabu seberat 3,1 kilogram ke Malaysia.

Demikian ungkap Aby, yang dihubungi VIVAnews melalui telepon pada Rabu (10/9/2014). Dia menyebut Polisi Diraja Malaysia sulit membuktikan keterlibatan Ajun Komisaris Besar Polisi Idha Endi Franstyono dan Brigadir Harahap dalam kasus tersebut.

Lagi pula Polisi Malaysia, kata Aby, pasti mengutamakan penegakan hukum di negaranya. Begitu pun dengan Indonesia. 

Kapolri Jenderal Sutarman, imbuh Aby, sudah menegaskan jika keduanya terlibat silakan diberi hukuman yang berat. Tetapi, kalau tidak terbukti, silakan dilepas. 

"Jadi tidak ada deal-dealan. Mereka tidak tertangkap tangan saat ditangkap polisi di sebuah hotel di Kuching," ujar Aby. 

Oleh sebab itu, lanjut Aby, Mahkamah Sepang menentukan status kedua perwira polisi tersebut sebagai saksi. Seharusnya, Idha dan Harahap tidak boleh meninggalkan Malaysia hingga proses sidang selesai. 

"Namun, saya berusaha melakukan lobi kepada Hakim agar kedua polisi itu bisa pulang. Hakim kemudian menyetujui namun dengan jaminan tertentu," kata Aby. 

Jaminan tersebut berupa penjamin warga lokal atau staf kedutaan. Maka, Aby langsung menunjuk dua staf kedutaan sebagai penjamin bahwa kedua polisi itu akan terbang kembali ke Malaysia di saat persidangan dimulai. 

"Selain itu, kami juga membuka dua akun bank, yang berisi masing-masing uang senilai RM10 ribu atau Rp36 juta. Namun, uang itu tidak bisa ditarik oleh Mahkamah atau staf kedutaan selaku pembuka akun. Jadi, akun itu akan tetap ada hingga persidangan selesai," papar Aby.

Dia memang mengakui tidak semua warga Indonesia yang tersandung kasus hukum lalu berstatus saksi bisa segera pulang ke tanah air. Aby berdalih, kehadiran Idha dan Harahap dibutuhkan segera, karena masih ada kasus lain yang diproses yakni terkait pelanggaran disipliner, antara lain berangkat ke Kuching, Malaysia tanpa izin, menghilangkan barang bukti narkoba dan memiliki mobil Mercedes-Benz dari bandar narkoba.

Idha dan Harahap ditahan di Kuching oleh Polisi Malaysia pada 31 Agustus lalu, karena diduga terkait kepemilikan narkoba jenis sabu.***