JAKARTA - Terdakwa kasus suap PLTU Riau-1, Eni Saragih, kembali menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (22/1).

Dalam sidang tersebut anggota Komisi VII DPR nonaktif itu mengungkapkan, dirinya menduga Direktur Utama (Dirut) PT PLN Syofyan Basyir menerima fee dari pemegang saham Blakgold Natural Resources (BNR) Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo.

''Ada satu momen saat pertemuan saya, Pak Kotjo dan Pak Sofyan Basir. Akan tetapi, kemudian saya keluar, bahkan pulang,'' kata Eni Maulani Saragih dalam sidang pemeriksaan terdakwa itu, seperti dikutip dari republika.co.id.

''Jadi, yang lanjut itu ada Pak Sofyan dan Pak Kotjo, saya lalu tanya Pak Kotjo setelahnya, ada apa sih? Memang ada hal-hal yang mungkin teknis dari mereka berdua, ada pembicaraan yang saya tidak tahu isinya detailnya. Akan tetapi, menurut Pak Kotjo ada sesuatu yang mau disampaikan dan menurut Pak Kotjo 'bereslah','' kata Eni.

Eni Maulani Saragih dalam perkara ini didakwa menerima suap senilai Rp4,75 miliar dari pemegang saham Blakgold Natural Resources (BNR) Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo serta gratifikasi sejumlah Rp5,6 miliar dan 40.000 dolar Singapura (sekitar Rp410 juta) dari pengusaha yang bergerak di bidang energi dan tambang.

''Akan tetapi, Saudara mengatakan bahwa di BAP: 'Ini saya bilang Pak Sofyan dapat yang banyak, kata Pak Sofyan kalau pun ada nanti bagiannya sama, nih', maksudnya apa?'' tanya jaksa penuntut umum (JPU) KPK Ronald Worotikan.

''Mungkin Pak Sofyan dapat (fee),'' jawab Eni.

''Kalau Pak Idrus, apakah dapat juga?'' tanya jaksa Ronald.

''Saya berharap Pak Idrus Marham dapat, caranya adalah dengan meminta tolong Pak Soyan ngomong kepada Pak Kotjo supaya Pak Idrus dapat,'' jawab Eni.

''Jadi, fee untuk Pak Sofyan?'' tanya jaksa Ronald.

''Saya tidak tahu. Akan tetapi, dari PLTU Riau ini saya belum dapat apa pun,'' jawab Eni.

''Lalu jawaban Pak Sofyan saat Saudara mengatakan, 'Pak Sofyan dapat yang paling banyak' apa?'' tanya jaksa Ronald.

''Oh ya begitu ya, kalau bisa sama saja,'' jawab Eni.

Menurut Eni, dari suap Rp4,75 miliar yang diberikan oleh Johanes Budisutrisno Kotjo sebesar Rp2 miliar, untuk keperluan Partai Golkar. ''Uang Rp 2 miliar itu sebesar Rp713 juta untuk keperluan steering committee  Munaslub Partai Golkar dan sisanya untuk pra-Munaslub dan kegiatan Golkar lainnya,'' kata Eni.

Namun, dari seluruh suap dan gratifikasi itu, Eni mengembalikan Rp3,05 miliar dan 10.000 dolar Singapura.***