JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan, ada 400 polisi berpangkat komisaris besar (kombes) berebut naik pangkat menjadi brigadir jenderal (brigjen).

''Kepangkatan seolah-olah menjadi ukuran atas performance, achievement, ya ini yang kombes pasti mati-matian menjadi brigjen, terjadi bottleneck yang sangat tinggi saat ini, bagaimana 400 orang lebih berkompetisi mendapatkan bintang satu yang jumlahnya dua atau tiga orang per bulan,'' kata Tito dalam acara wisudawan purna bakti perwira tinggi Polri di auditorium PTIK-STIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/7), seperti dikutip dari merdeka.com.

Saking banyaknya yang ingin naik bintang satu, kata Tito, tak sedikit yang mencari dukungan dan mengeluarkan uang. Hal itu, katanya, menjadi rahasia umum.

''Kita tahu Polri ini kita diajari intelijen dari dulu termasuk dalam kemampuan penggalangan, jadi galang menggalang ke sana ke mari bergerak manuver ilmunya kita termasuk manuver ke sana ke mari juga untuk mendapatkan bintang satu minimal,'' kata Tito.

''Ditambah lagi, banyak juga yang punya logistik, udah galang, logistik lagi, nah itulah yang saya rasakan sebagai Kapolri, Pak Wakapolri juga paham mungkin bagaimana titipan, tekanan dan seterusnya,'' sambungnya.

Eks Kepala BNPT itu juga mengaku dilema terkait kombes yang berbeda angkatan. Menurutnya, kadang yang yunior lebih dipertimbangkan naik bintang satu lantaran semangat bekerjanya lebih baik.

''Yang repot adalah yang kombes-kombes senior ini rata-rata mohon maaf mungkin bagian tengahnya, yang yunior-yunior ini bagian atas puncaknya mereka di dalam grade sosiometri mereka, idealis mereka masih tinggi, keinginannya sangat kuat bekerja, organisasi otomatis akan mencari mana yang terbaik untuk mendukung,'' tutur Tito.

Tito menceritakan dampak dari menumpuknya status perwira menengah yang tak kunjung naik perwira tinggi. Menurutnya, hal ini disebabkan banyaknya taruna akademi akpol yang terus meningkat, puncaknya di angkatan 88.

''Yang membuat angkatan crowded angkatan 88, 88 a dan 88 b, mohon maaf untuk temen temen angkatan 88, karena ini dua angkatan hampir 400 orang, pama banyak, tapi dampaknya lebih ke sekarang ini, saya merasakan betul,'' tandas Tito.***